Kajian Seputar Aqidah dan Amaliah Aswaja

Bid'ah Sahabat Nabi dalam Shahih al-Bukhari

Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah terpuji atau populer dengan sebutan bid’ah hasanah adalah setiap perbuatan baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun Nabi Muhammad SAW ...

Mengenal Sosok 'Mubham' dalam Hadits

Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi. Para sahabat yang mengetahuinya emosi...

Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru

Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya....

Sifat Shalat Nabi Ala ASWAJA

Sangat disayangkan bila dewasa ini muncul sikap-sikap yang kurang bijaksana dari kelompok tertentu yang sibuk mencari-cari kesalahan tata cara shalat kelompok lain dengan mengatakan landasannya lemah, bahkan diiringi dengan vonis bid’ah...

Mayit Bisa Menerima Manfaat dari Amal Orang yang Masih Hidup (Bagian Pertama)

Selain menerima manfaat amal kebajikan yang pernah dikerjakannya semasa hidup, orang yang sudah meninggal dunia juga bisa mendapatkan manfaat dari amaliah saudaranya sesama Muslim,...

Showing posts with label Nasihat Sayidina Abu Bakar. Show all posts
Showing posts with label Nasihat Sayidina Abu Bakar. Show all posts

Sunday, November 11, 2018

Dokter

Dikisahkan bahwa Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah mengalami sakit, kemudian para sahabat menjenguknya seraya mengatakan, “Apakah tidak sebaiknya kami panggilkan dokter, wahai Abu Bakar?”
Sayidina Abu Bakar ra pun menjawab, “Seorang dokter telah memeriksa keadaanku.”
Para sahabat bertanya padanya, “Apa yang ia katakan padamu?”
Jawab Sayidina Abu Bakar ra, “Dia berkata, ‘Sesungguhnya Aku melakukan apa pun yang Aku kehendaki.’”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Az-Zuhdu, halaman 140.

Lewat nasihat ini, kita diingatkan oleh Sayidina Abu Bakar ra bahwa sakit merupakan ketentuan Allah atas kita, yang mau tidak mau harus kita jalani. Nasihat ini juga menyiratkan pesan bahwa di antara penyembuh, yang paling menentukan kesembuhan adalah Allah Swt. Maka, kalau kita sakit berusahalah untuk mencari obat, namun berharaplah kesembuhan hanya kepada Allah Ta’ala saja.

Sayidina Abu Bakar ra berkata, “Seorang dokter telah memeriksaku, dan Dia berkata, ‘Aku melakukan apa pun yang Aku kehendaki’”, artinya, hanya di tangan Allah kesembuhan itu ditentukan. Apa pun obat yang kita konsumsi, jika Allah belum menyembuhkan, maka kesembuhan takkan terjadi.

Namun, ada hal yang perlu diingat. Karena sakit dan kesembuhan berasal dari Allah Swt, maka yakinlah bahwa di balik sakit yang menimpa kita selalu ada hikmah, kebaikan, bahkan kemuliaan yang disedikan oleh-Nya bagi kita. Tentu saja syarat memperolehnya adalah sabar dan selalu berbaik sangka pada-Nya.

Jika saat ini Anda sedang mengalami sakit, bahkan boleh jadi sudah sejak lama dan tak kunjung sembuh, janganlah berputus asa dari rahmat-Nya. Teruslah berusaha untuk memperoleh obat yang sesuai dengan penyakit yang Anda derita, hingga Allah berkehendak menyembuhkan Anda. Ya, hanya Dia yang bisa menyembuhkan, tiada yang lain. Dia melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya, maka bermohonlah pada-Nya.
Share:

Friday, November 2, 2018

Jangan Khianati Tanggungan Allah

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Salman al-Farisi ra pernah datang menemui Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra untuk meminta nasihat padanya. Salman ra berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah Saw, nasihatilah aku!”

Lalu, Sayidina Abu Bakar ra berkata padanya, “Sesungguhnya Allah telah membukakan dunia bagi kalian, maka janganlah kalian mengambil kecuali yang kalian butuhkan darinya saja. Dan sesungguhnya barangsiapa yang shalat Subuh, maka ia berada dalam tanggungan Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, janganlah engkau khianati tanggungan Allah sehingga akan membuat-Nya memasukkan dirimu ke dalam siksa neraka.” 

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Az-Zuhdu, halaman 137.

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra menasehatkan pada kita, bahwa dunia ini telah dibukakan Allah untuk kita. Namun jangan lupa, bahwa terbukanya dunia ini bagi kita mengandung ujian di dalamnya. Akankah kita mengambil seluruh isinya, menikmatinya, lalu melupakan Dia yang telah membukakannya bagi kita. Atau, kita hanya mengambil secukupnya saja dan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Nah, Sayidina Abu Bakar ra menganjurkan kita agar mengambil secukupnya saja. Cukup dalam pengertian bisa mempertahankan hidup dengannya dan bisa menunjang pengabdian kita kepada Allah Ta’ala. 

Seseorang mungkin akan bertanya, “Bukankah pengertian cukup itu relatif?” Ya, tentu saja relatif. Namun hanya orang-orang yang memandang relativitas itu sesuai tuntunan nafsunya yang tidak akan mampu merasakan apakah sudah cukup atau masih sangat kurang dunia itu baginya. Sedangkan bagi orang-orang yang ditolong Allah, ia secara pasti bisa merasakan bahwa dunia itu sudah sangat cukup baginya. 

Untuk memahami pengertian tersebut, Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra mengatakan bahwa orang yang shalat Subuh berada dalam tanggungan Allah ‘Azza wa Jalla. Apa artinya? Shalat Subuh adalah hak Allah yang paling awal yang harus kita penuhi. Ketika kita menunaikan shalat Subuh pada waktunya, berarti kita menyegerakan diri di awal kehidupan kita pagi itu untuk memenuhi apa yang menjadi hak Allah atas kita, maka Allah akan memenuhi hak kita atas-Nya. Dia adalah Dzat yang tidak akan menyia-nyiakan setiap amal yang dipersembahkan untuk-Nya. Dia pasti akan memberikan imbalan atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, apalagi bila yang kita laksanakan itu adalah sesuatu yang diwajibkan-Nya atas kita.

Salah satu hak kita atas Allah adalah rezki. Karena hanya Allah yang bisa memberi rezki kepada setiap makhluk, maka adalah kewajiban-Nya memberikan rezki itu kepada makhluk. Dalam pengertian ini, Sayidina Abu Bakar ra mengatakan kepada Salman al-Farisi ra (dan kepada kita), bahwa kalau kita shalat Subuh, maka rezki kita pada hari itu berada dalam tanggungan Allah. Karena kita menyegerakan pemenuhan hak Allah atas kita, maka Allah pun akan menyegerakan pemenuhan hak kita atas-Nya, yakni rezki kita. 

Nah, karena rezki kita berada dalam tanggungan Allah, maka janganlah melakukan sesuatu yang menyebabkan Allah memasukkan kita ke dalam neraka. Artinya, janganlah demi memenuhi kebutuhan hidup kita pada hari itu, lalu kita melakukan segala macam cara yang tidak dihalalkan oleh-Nya. Tetaplah Anda berusaha mendapatkan rezki Anda yang telah disebarkan Tuhan di permukaan bumi ini, namun janganlah menggunakan cara-cara yang tidak dikehendaki Tuhan, karena Dia telah menjamin rezki Anda. Jika Anda menggunakan cara-cara yang diharamkan Allah, artinya Anda tidak percaya pada jaminan Tuhan, dan layaklah bila Allah akan memasukkan orang-orang yang berbuat demikian ke dalam siksa neraka. 

Oleh karena itu, janganlah khianati apa yang sudah menjadi tanggungan Allah atas kehidupan kita.
Share:

Tuesday, October 23, 2018

Tunaikanlah Sedekah Kalian

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah menyampaikan sebuah khutbah yang di dalamnya ia berkata:

“Aku wasiatkan agar kalian bertakwa kepada Allah, karena kebutuhan dan ketergantungan kalian kepada-Nya. Dan hendaklah kalian memuji-Nya, karena Dia adalah pemilik segala pujian. Serta hendaklah kalian memohon ampun pada-Nya, karena sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Ketahuilah, sesungguhnya selama kalian ikhlas (beribadah) untuk Allah Ta’ala, maka engkau akan taat kepada Allah dan menjaga hak-hak-Nya atasmu. Tunaikanlah sedekah kalian pada saat kalian diberi kemampuan untuk itu. Dan jadikanlah ia sebagai keutamaan bagi kalian, maka kalian akan memperoleh gantinya yang setimpal pada saat kalian fakir dan membutuhkan.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Tahdzibu Hilyatil Auliya’, I/58.

Di sini Sayidina Abu Bakar ra menyeru kita untuk selalu bertakwa kepada Allah Swt atas dasar kebutuhan dan ketergantungan kita kepada-Nya. Bahasa sederhananya, bertakwalah kepada Allah sesuai dengan tingkat kebutuhan dan ketergantungan Anda pada-Nya. Bila Anda merasa sangat membutuhkan Allah dan sangat bergantung pada Allah, maka bertakwalah kepada-Nya sesuai kadar kebutuhan dan kebergantungan Anda itu. Sebaliknya, jika Anda merasa sudah tak membutuhkan pertolongan Allah lagi, ya…, berbuatlah sesuka hati. Namun, mungkinkah ada di antara kita yang mampu menjalani hidup tanpa bergantung pada Allah dan tanpa bantuan dari-Nya?

Kalau kita menyadari tak mungkin hidup tanpa pertolongan-Nya, maka dekatilah Dia. Caranya, perbanyak memuji Allah dan memohon ampun atas kekhilafan yang telah kita lakukan pada-Nya. Bagaimana mungkin kita tak mau memuji Allah, padahal Dia-lah yang telah mencukupi kebutuhan kita dan nikmatnya selalu bersama kita dalam setiap hembusan dan tarikan nafas. Bagaimana mungkin kita berat untuk memohon ampun pada-Nya, padahal hanya Dia yang berhak mengampuni dosa dan kekhilafan setiap makhluk. Tak mungkin bagi kita mencari sosok lain yang bisa memberikan ampunan pada kita selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Jika kita sudah menyadari semua itu, maka ikhlaskanlah diri untuk beribadah hanya untuk-Nya. Lakukanlah setiap kebajikan semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya. Bila Anda mampu melakukan yang demikian, maka kabar gembira bagi Anda, karena Anda termasuk ke dalam golongan orang-orang yang taat kepada Allah dan menunaikan hak-hak-Nya atas diri Anda. 

Salah satu hak Allah adalah memerintahkan kepada kita agar membelanjakan di jalan-Nya sebagian rezki yang dianugerahkan-Nya pada kita. Ketahuilah, hal itu Dia perintahkan bukan karena Dia memperoleh manfaat darinya. Amalan itu akan kembali manfaatnya kepada kita yang melaksanakannya. Oleh karena itu Sayidina Abu Bakar ra menyatakan bahwa jika kita menunaikan sedekah saat Allah memberikan kemampuan bagi kita untuk melaksanakannya, dan kita menjadikan sedekah sebagai bentuk keutamaan amal kita, maka Allah akan memberi ganti yang setimpal bagi kita, bahkan berlipat ganda, saat kita berada dalam kefakiran dan sangat membutuhkan. 

Sudahkah Anda bersedekah hari ini?
Share:

Monday, October 15, 2018

Mengambil Pelajaran

Dalam sebuah nasihatnya, Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah berucap:

“Di manakah orang yang wajahnya berseri-seri, yang kagum dengan masa mudanya?
Di manakah raja-raja yang membangun negeri, dan yang terlindung oleh benteng-benteng?
Di manakah orang-orang yang dimenangkan dalam berbagai peperangan?
Sungguh masa telah menghinakan mereka, dan menjadikan mereka terkurung dalam kegelapan liang lahat. Cepat…, cepat…, bersegeralah kalian menyelamatkan diri…!”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Shifatush Shafwah, I/136, dan Tahdzibul Hilyah, I/158.

Setelah membaca nasihat ini, apakah Anda telah menemukan jawaban di mana mereka semua saat ini? Ketahuilah, bahwa bumi yang kita pijak saat ini bukanlah bumi yang baru. Telah tak terhitung jumlah manusia yang pernah menempatinya. Berbagai keadaan hidup manusia sudah pernah berlangsung di sini. Lalu, di mana mereka sekarang?

Wajah yang berseri-seri itu kini telah tiada; raja-raja yang berkuasa itu kini telah berkalang tanah; orang-orang yang telah dimenangkan dalam peperangan itu kini telah bertekuk lutut, menyerah, dan terkurung di liang lahat. Lalu, belumkah hadir kesadaran dalam diri kita untuk mengambil perlajaran dari semua peristiwa itu? 

Ketahuilah, saat ini kita hanya sedang menunggu waktu. Apabila saat yang ditentukan Allah itu tiba, kita pun akan menyusul mereka dan akan menjadi seperti mereka. Orang-orang yang hidup sesudah kita pun akan mengajukan pertanyaan seperti pertanyaan yang kita ajukan saat ini. Oleh karena itu, janganlah Anda terlena oleh keadaan hidup yang bergelimang harta saat ini; jangan pula lupa diri disebabkan Anda sedang memegang mandat kekuasaan; jangan melupakan kepastian datangnya saat kematian Anda disebabkan popularitas yang saat ini sedang berpihak pada Anda. Ingatlah…, semua itu akan berakhir dan kita pasti akan masuk ke liang lahat.

Bersiaplah…! Bersiaplah…!
Share:

Tuesday, October 9, 2018

Tak Sedikit pun Menyisakan Kebaikan

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah berkata:

“Apakah kalian tidak mengetahui bahwa kalian itu berangkat dan kembali pada waktu yang telah ditentukan? Tidak sedikit pun tersisa kebaikan dalam perkataan yang tidak dimaksudkan untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala. Tidak sedikit pun tersisa kebaikan di dalam harta yang tidak dibelanjakan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak sedikit pun tersisa kebaikan bagi orang yang kebodohannya mengalahkan kesantunannya. Dan tidak sedikit pun tersisa kebaikan bagi orang yang takut terhadap celaan orang yang mencela dalam ketaatannya pada Allah.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Hilyatul Auliya’, I/36.

Melalui nasihat ini, Sayidina Abu Bakar ra mengingatkan kita agar menyadari bahwa kehadiran kita di dunia ini telah ditentukan Allah waktunya, sebagaimana halnya Dia pun telah menentukan waktu bagi kita untuk kembali kepada-Nya. Ketentuan itu berada dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa, dan tak seorang pun yang mampu mengetahuinya. Disebabkan waktu keberangkatan dari-Nya dan kembali kepada-Nya merupakan sebuah persoalan misterius yang sangat besar, maka tindakan terbaik yang bisa kita lakukan dalam menyikapinya adalah mempersiapkan diri menghadapi saat-saat kedatangannya. 

Ketahuilah, saat kita kembali kepada Allah, itu adalah awal persoalan besar yang harus kita hadapi. Kematian bukan akhir segala-galanya, melainkan pintu pertama bagi kita untuk menghadapi tuntutan pertanggungjawaban kehidupan yang telah kita jalani di dunia ini di hadapan Allah Dzat Yang Maha Adil. Beruntunglah bagi siapa saja yang timbangan amal kebajikannya lebih berat dari amal keburukannya, dan merugilah orang-orang yang amal buruknya lebih banyak daripada amal baiknya.

Agar timbangan amal kebaikan kita lebih berat daripada keburukan, Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra menasihati kita agar tidak melakukan hal-hal yang tak menghasilkan nilai kebaikan di sisi Allah Ta’ala. Beliau menyebut ada empat hal yang sama sekali tak menghasilkan catatan kebaikan sedikit pun di sisi Allah:
  • ·         Mengucapkan kata-kata yang tidak dimaksudkan/tidak diniatkan untuk menggapai ridha Allah.
  • ·         Mempunyai harta namun tidak dibelanjakan di jalan Allah.
  • ·         Orang bodoh yang tidak mau menuntut ilmu sehingga menyebabkan hilangnya sifat santun dari dalam dirinya.
  • ·         Orang yang takut mendapat celaan orang lain karena sikapnya yang taat kepada Allah.
Nah, satu di antara sekian banyak usaha yang bisa kita lakukan untuk memperberat timbangan amal kebaikan kita kelak di sisi Allah adalah dengan menghindari keempat hal di atas. Semoga di yaumil hisab kita termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang berat timbangan amal baiknya. Aamiin.
Share:

Friday, October 5, 2018

Berpura-pura Menangis

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra memberi nasehat pada kita:

“Barangsiapa yang bisa menangis, maka menangislah. Dan barangsiapa yang tidak bisa, maka hendaklah ia berpura-pura menangis.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Tanbihul Mughtarin, halaman 178.

Melalui kalimat ini sesungguhnya Sayidina Abu Bakar ra mengajarkan kepada kita salah satu cara melembutkan hati, yakni dengan menangis. Meneteskan air mata adalah satu di antara sekian banyak cara yang bisa melembutkan hati yang keras.
Menangis juga menjadi jalan bagi kita untuk meluapkan segala beban yang menyesakkan dada. Biasanya beban yang berat akan terasa berkurang saat air mata bisa kita teteskan. Menangis akan menjadi sangat efektif dalam melembutkan hati bila dilakukan saat shalat sunnah dan berdoa kepada Allah. Saat seseorang merasa bahwa dirinya penuh dengan lumuran dosa; dan saat seseorang merasakan betapa hina dirinya di hadapan Allah, maka ia akan meneteskan air mata. 

Namun, tidak semua orang bisa menangis dengan mudah, dan sebagian besar penyebabnya adalah kurangnya tingkat kepekaan hati saat berhadapan dengan situasi yang menyentuh jiwa. Maka, terhadap orang-orang yang masuk dalam kategori ini Sayidina Abu Bakar ra menyarankan agar berpura-pura menangis, atau paksakanlah diri untuk menangis. Ini adalah salah satu bentuk metode yang bisa membuat seseorang menjadi benar-benar menangis. 

Mulai hari ini berlatihlah untuk meneteskan air mata. Sungguh ada banyak hikmah yang akan diperoleh oleh seseorang yang mudah menangis. Tentu saja tangisan yang dimaksud adalah tangisan sebagai hasil kepekaan batin terhadap situasi yang sedang dihadapi. Yakinlah bahwa menangis bukanlah perbuatan yang hina, bahkan Sang Nabi dan para sahabatnya adalah orang-orang yang banyak menangis.
Share:

Tuesday, October 2, 2018

Kelembutan Hati

Dalam salah satu ungkapannya, Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra telah berkata:

“Barangsiapa yang ingin mendapatkan perlindungan Allah dari panasnya sengatan api neraka Jahannam pada hari kiamat, hendaklah ia menyayangi orang-orang mukmin, (yang demikian itu merupakan) kelembutan hati.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Tanbihul Mughtarin, halaman 48.

Melalui ungkapan ini, Sayidina Abu Bakar ra menjelaskan kepada kita bahwa sikap kasih sayang yang kita berikan kepada orang-orang mukmin menjadi jalan turunnya perlindungan Allah bagi kita dari siksa neraka Jahannam pada hari kiamat kelak. 

Mengapa sifat kasih sayang terhadap orang-orang mukmin bisa menjadi jalan turunnya perlindungan Allah pada saat tak ada lagi perlindungan selain yang diberikan oleh-Nya? 

Pengasih dan Penyayang sesungguhnya merupakan sifat yang dimiliki Allah Ta’ala. Seseorang yang dalam dirinya terdapat sifat kasih sayang, adalah orang yang telah menyerap sebagian dari sifat yang dimiliki Tuhan. Lalu, bagaimana mungkin Allah akan membiarkannya tersiksa di dalam api neraka, sementara di dalam dirinya terdapat sifat-sifat yang dimiliki Tuhan? Itulah sebabnya, orang yang mengasihi dan menyayangi kaum beriman akan memperoleh perindungan Allah kelak di hari kiamat dari jilatan api neraka Jahannam.

Sikap mengasihi dan menyayangi adalah wujud nyata kelembutan hati. Hati menjadi tempat turunnya petunjuk Allah kepada manusia. Orang yang menyerap petunjuk dan sifat-sifat yang dimiliki Allah, lalu menempatkannya ke dalam hatinya, maka hati itu akan menjadi lembut. 

Mengapa? 

Karena sifat kasih sayang yang hadir di dalamnya, pada hakikatnya berasal dari kelembutan yang dimiliki Tuhan. Maka, beruntunglah bila Anda mendapatkan kelembutan Tuhan dengan menanamkan di dalamnya sifat kasih sayang terhadap kaum beriman. Di dunia kehadiran Anda akan ditunggu banyak orang, sedangkan di akhirat Anda akan ditunggu oleh perlindungan Allah. Berbahagialah!
Share:

Monday, September 17, 2018

Darah dan Kehormatan Kaum Muslimin

Disebutkan bahwa Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah berkata:

“Bertakwalah kepada Allah dengan menaati-Nya, dan taatlah kepada Allah dengan bertakwa kepada-Nya. Tahanlah tanganmu dari menumpahkan darah kaum muslimin, dan perutmu dari memakan harta mereka, serta lisanmu dari (mencela) kehormatan mereka.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Risalatul Mustarsyidin, halaman 46.

Oleh Sayidina Abu Bakar ra, kita dinasihati untuk selalu bertakwa kepada Allah Swt. Caranya adalah dengan taat kepada-Nya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu, laksanakanlah; dan jika Allah melarang kita untuk melakukan sesuatu, maka menghindarlah darinya. 

Sayidina Abu Bakar ra juga menasihati kita agar taat kepada Allah. Caranya adalah dengan bertakwa kepada-Nya. Seorang hamba dikatakan bertakwa kepada Allah, bila ia taat pada-Nya. Demikian juga, seorang hamba dikatakan taat kepada Allah, bila ia bertakwa pada-Nya. 

Wujud konkret dari keadaan seorang hamba yang takwa dan taat kepada Allah, salah satunya, adalah menjauhkan diri dari sikap mengganggu kehidupan saudara muslimnya. Seorang muslim sudah dikatakan mengganggu kehidupan saudara muslimnya bila ia menumpahkan darahnya, merampas dan menikmati hartanya, serta mencela dengan lisannya kehormatannya. 

Tiga bentuk keburukan itu sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Nabi Saw menggambarkan persaudaraan sesama muslim laksana satu tubuh, bila ada satu yang sakit maka yang lain pun akan ikut merasakan sakit. Gambaran ini memperlihatkan betapa eratnya persaudaraan yang diikat oleh tali iman. Oleh karena itu, tidaklah layak dikatakan seseorang itu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya bila ia tidak menjaga kehormatan saudara muslimnya dari kejahatan ucapan dan perbuatannya. 

Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah pada-Nya dengan cara menahan tangan Anda dari menumpahkan darah kaum muslimin, menjaga perut Anda dari memakan harta mereka, dan menjaga lisan Anda dari mencela kehormatan mereka.
Share:

Friday, September 7, 2018

Janganlah Berbangga Diri

Telah sampai kepada kita riwayat yang menyebutkan Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah berkata dalam khutbahnya:

“Amma ba’du…, wahai manusia, aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah Yang Maha Agung, dalam setiap urusan dan dalam berbagai keadaan. Dan agar kalian berpegang pada kebenaran, baik dalam hal yang engkau suka maupun yang engkau benci.

Sesungguhnya tidak ada kebaikan selain pada kejujuran dalam ucapan. Barangsiapa yang berdusta, maka ia telah berbuat dosa, dan barangsiapa yang berbuat dosa maka ia akan hancur.

Dan janganlah kalian berbangga diri. Apa yang bisa kalian banggakan, sementara kalian hanyalah makhluk yang tercipta dari tanah dan akhirnya akan kembali ke tanah. Sekarang ia hidup dan esok ia mati. Ketahuilah dan persiapkanlah dirimu menghadapi kematian. Jika engkau menghadapi sesuatu yang sulit bagimu untuk memecahkannya, maka kembalikanlah (serahkanlah) ia kepada Allah. Antarkanlah diri kalian pada kebaikan, niscaya kalian akan mendapatkan balasannya.

Maka, bertakwalah kalian hai hamba-hamba Allah. Sadarilah bahwa Allah senantiasa mengawasi kalian. Dan ambillah pelajaran dari orang-orang sebelum kalian. Ketahuilah bahwa pertemuanmu dengan Rabbmu dan balasan atas segala amalanmu adalah suatu kepastian, baik yang kecil maupun yang besar, kecuali apa yang diampuni oleh-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Kalian bertanggung jawab atas diri kalian, dan aku memohon pertolongan kepada Allah. Sungguh tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Al-Aqdul Farid, IV/57.

Dalam khutbahnya ini, Sayidina Abu Bakar ra memberikan banyak nasihat kepada kita. Beliau mengingatkan kita agar senantiasa bertakwa kepada Allah Swt dalam keadaan apa pun dan selalu berpegang pada kebenaran meskipun terhadap sesuatu yang mungkin kita merasa benci terhadapnya. Realisasi dari sikap takwa dan selalu berpegang kepada kebenaran itu adalah dengan menghindarkan diri dari perilaku dusta dan memilih untuk membiasakan diri berlaku jujur dalam ucapan maupun perbuatan.

Nasihat lain yang tak kalah pentingnya adalah agar kita menjauh dari sikap membanggakan diri. Beliau mengingatkan pada kita bahwa kita hanyalah seorang makhluk yang tercipta dari tanah dan pada akhirnya kelak akan kembali ke tanah. Dengan asal mula yang demikian itu, lalu, apa yang membuat kita membanggakan diri? Ya, tak ada seorang pun di antara manusia ini yang tak tersentuh kematian. Setiap kita, apa pun status sosialnya, berapa pun kelimpahan harta yang diberikan Tuhan padanya, sesungguhnya sedang menunggu waktu yang akan mengantarkan kita kembali ke asal mula kejadian kita, yakni kembali ke tanah. Kalau seperti itu sudah merupakan kepastian bagi kita, mengapa harus berbangga diri? Bukankah akan lebih baik bagi kita untuk bersikap mempersiapkan diri guna menghadapi saat-saat dikembalikannya kita ke tanah itu? 

Sadarilah bahwa kita bukanlah orang pertama yang menempati tempat kita berpijak saat ini. Telah berlalu generasi ke generasi dari permukaan bumi ini. Lalu, di mana mereka sekarang? Kalau Anda sudah mengetahui jawabannya, maka kelak pertanyaan yang sama juga akan diajukan kepada anak cucu kita, dan kembali jawaban yang sama akan diberikan. Oleh karena itu, mulai detik ini mohonlah perlindungan kepada Allah agar Dia menjauhkan kita dari sikap membanggakan diri, karena sungguh tak ada yang pantas kita banggakan dari diri ini.
Share:

Sunday, September 2, 2018

Balasan Bagi Seorang Muslim

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra diriwayatkan telah berkata:

“Sesungguhnya seorang muslim itu akan memperoleh balasan atas setiap perbuatan yang dilakukannya, sekalipun itu hanya peristiwa yang berlangsung dalam sekejab, yakni terputusnya tali sandalnya, atau hilangnya barang yang ia simpan di dalam kantungnya lalu ia bersedih atasnya, kemudian ia menemukannya kembali di atas kendaraannya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Az-Zuhdu, halaman 136.

Melalui nasihat ini, Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra menjelaskan kepada kita bahwa tak ada sedikit pun amal kebajikan yang sia-sia dalam pandangan Allah. Demikian juga sebaliknya, tak ada sedikit pun perbuatan buruk yang lepas dari perhitungan Tuhan. Dia adalah Dzat Yang Maha Menyaksikan, sekaligus juga Maha Adil. 

Allah menyaksikan apa pun yang kita perbuat, dan dengan keadilan-Nya, Allah akan memperlihatkan kepada kita balasan dari setiap amal yang kita kerjakan. Maka, jangan pernah menyia-nyiakan amal kebaikan sekecil apa pun. Usahakan setiap saat yang kita lalui dalam kehidupan ini terukir padanya catatan-catatan kebaikan. Di lain pihak, jangan pula pernah memandang remeh perbuatan dosa sekecil apa pun, karena Allah pasti akan memperlihatkan kepada kita balasannya. Beruntunglah seorang muslim yang selalu mengisi sisa hidupnya dengan kebajikan demi kebajikan.
Share:

Monday, August 27, 2018

Mohonlah Ampunan Allah

Suatu saat Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra menaiki mimbar Rasulullah Saw untuk menyampaikan nasihatnya. Beberapa saat ia berbicara, suaranya tersendat sebanyak tiga kali karena tak mampu menahan tangisan yang tiba-tiba menyesakkan dadanya. Sayidina Abu Bakar ra berkata:

“Wahai manusia, minta ampunlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya, setelah seseorang mendapat ampunan Allah, ia tidak akan diberi karunia yang lebih utama dari keyakinan. Dan tidak ada sesuatu yang lebih parah daripada keraguan setelah kekufuran.

Hendaklah kalian berlaku jujur, karena ia akan menunjuki kalian kepada jalan kebaikan. Dan tempat bagi keduanya (kejujuran dan kebaikan) adalah surga. Dan janganlah kalian berdusta, karena ia akan menunjukimu kepada kejelekan. Dan tempat bagi keduanya (berdusta dan kejelekan) adalah di neraka.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Az-Zuhdu, halaman 135.

Ampunan Allah Swt adalah sebesar-besar karunia dari-Nya. Adakah lagi yang lebih kita harapkan selain ampunan Allah atas segala dosa dan kekhilafan yang pernah kita lakukan? Bagaimana tidak, ampunan Allah menjadi jalan bagi kita untuk memperoleh berbagai macam anugerah Allah lainnya. Ampunan Allah menyebabkan tumbuhnya keyakinan yang sangat kuat dalam diri kita terhadap-Nya. Siapa pun yang keyakinannya kuat terhadap Allah, maka ia takkan pernah kecewa, karena ia tahu apa pun yang digariskan Tuhan untuknya adalah yang terbaik baginya.

Ampunan Allah membuat kita sadar dengan kesadaran mendalam bahwa Dia selalu bersama kita dan menatap apa saja yang kita lakukan. Kesadaran ini akan membawa kita pada sikap berhati-hati, berlaku jujur, dan menghindar dari segala perkara yang mengundang kemurkaan Allah. Dengan demikian, mohonlah ampun kepada-Nya, karena ampunan itu akan menyebabkan kita selamat menjalani kehidupan ini, di dunia hingga akhirat kelak.
Share:

Friday, August 17, 2018

Jangan Hina Saudara Muslimmu

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah berkata:

“Janganlah seseorang menghina orang lain sesama muslim, karena seorang muslim yang paling kecil di mata Allah sangat besar (nilai dan kedudukannya).”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin, IV/137.

Sebenarnya Tuhan tak pernah memberikan kepada kita hak untuk menghina orang lain, apalagi bila ia seorang muslim. Allah SWT adalah pencipta manusia dan hanya Dia yang tahu nilai dan kedudukan seorang anak manusia. Di sini Sayidina Abu Bakar ra mengingatkan kepada kita agar tidak mudah bersikap menghina seorang muslim. 

Dalam kehidupan ini bisa saja di antara sesama muslim terdapat banyak perbedaan. Itu terjadi karena Tuhan telah menganugerahkan kepada kita kemampuan yang tidak sama. Ada orang yang diberi Allah kecerdasan lebih baik dibandingkan yang lain. Ada pula orang yang diberi Allah amanah berupa harta yang sangat berlimpah, sementara yang lain berada dalam keadaan serba kekurangan. Semua itu terjadi atas kehendak Allah dan itu menjadi ujian bagi siapa pun yang menerimanya. 

Maka, jangan jadikan perbedaan-perbedaan itu sebagai dasar bagi yang satu untuk menghina yang lain. Sekecil apa pun seorang muslim dalam padangan kita, namun ia tetap memiliki nilai dan kedudukan di sisi Allah SWT. Maka, jangan hina dan remehkan saudara muslimmu.
Share:

Tuesday, August 7, 2018

Berhati-hatilah terhadap Dunia

Salah seorang sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin Auf ra berkisah kepada kita, “Aku pernah menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq ra saat ia sakit yang pada akhirnya mengantarkannya kepada kematian. Setelah menjawab salam yang kuucapkan untuknya, Abu Bakar ra berkata, “Aku melihat dunia mendatangimu, namun engkau tidak menyambutnya. Padahal ia mendatangimu. Dan kalian akan menjadikan sutra sebagai kain penutup (korden) dan bantal, serta kalian akan merasakan pedihnya tempat tidur dari kain Adzariy. Seolah-olah kalian tidur di atas pohon yang berduri. Sungguh seseorang di antara kalian yang maju dan terpenggal kepalanya –bukan karena hukuman qishash—lebih baik daripada ia harus berenang dalam kesenangan dunia.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Tahdzibu Hilyatil Auliya’, I/58 dan Al-Aqdul Farid, IV/254.

Di sini Sayidina Abu Bakar ra memperlihatkan kepada kita sikap Sayidina Abdurrahman bin Auf ra terhadap dunia. Kepadanya datang dunia, namun ia tak mementingkannya. Sebenarnya ini adalah nasihat agar kita bisa mencontoh sikap Sayidina Abdurrahman bin Auf ra tersebut. Orang yang berhati-hati terhadap dunia tidak akan tertipu olehnya. Saat Anda membuka kedua belah tangan Anda menyambut kedatangan dunia, memeluknya, dan memasukkannya ke dalam hati, maka ia akan selalu menampilkan diri sebagai sosok yang paling Anda dambakan dalam kehidupan Anda.
 
Berhati-hatilah terhadap dunia. Tampilannya tidak selalu sama dengan hakikatnya. Dunia tak penah benar-benar jujur kepada kita, sebagaimana ia pun tak pernah benar-benar bisa menghadirkan kebahagiaan dalam jiwa kita. Apakah kita terlarang mengambil bagian kita di dunia ini? Tentu saja tidak. Jika Anda menginginkan sesuatu dari dunia, ambillah. Namun tetaplah berhati-hati padanya. Ambillah dunia sekedar untuk menunjang pengabdian Anda kepada Allah Swt. Jangan berlebihan menginginkannya, karena Anda takkan pernah puas memilikinya.
 
Dunia tak mampu memberikan kemuliaan hakiki pada manusia. Kemuliaan yang diberikannya hanyalah fatamorgana, tak kekal dan pada akhirnya akan sirna. Bila Anda hidup dalam dekapan dunia, ia memberikan pada Anda kasur empuk yang membuat Anda tidur nyenyak. Begitu lelapnya Anda tidur hingga tak pernah mau peduli bahwa ada orang-orang yang merintih kelaparan di samping rumah Anda, maka kasur empuk hadiah dari dunia itu pada hakikatnya sedang menusuk Anda. Pedihnya tusukan itu hanya akan kita rasakan saat berada di hadapan Allah Ta’ala. Saat Anda menikmati duduk di sebuah mobil mewah, sementara Anda mengabaikan tangan-tangan kecil yang menengadah kepada Anda, sebenarnya mobil mewah hadiah dari dunia itu sedang membawa Anda kepada sebuah tempat yang penuh siksa. Dan itu hanya akan kita rasakan saat kita berada di hadapan Tuhan.
 
Dunia tak pernah jujur, maka berhati-hatilah padanya.
Share:

Waktu Saat Ini


Syubbanul Wathon

Tahlilan

Tamu Online