Kajian Seputar Aqidah dan Amaliah Aswaja

Bid'ah Sahabat Nabi dalam Shahih al-Bukhari

Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah terpuji atau populer dengan sebutan bid’ah hasanah adalah setiap perbuatan baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun Nabi Muhammad SAW ...

Mengenal Sosok 'Mubham' dalam Hadits

Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi. Para sahabat yang mengetahuinya emosi...

Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru

Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya....

Sifat Shalat Nabi Ala ASWAJA

Sangat disayangkan bila dewasa ini muncul sikap-sikap yang kurang bijaksana dari kelompok tertentu yang sibuk mencari-cari kesalahan tata cara shalat kelompok lain dengan mengatakan landasannya lemah, bahkan diiringi dengan vonis bid’ah...

Mayit Bisa Menerima Manfaat dari Amal Orang yang Masih Hidup (Bagian Pertama)

Selain menerima manfaat amal kebajikan yang pernah dikerjakannya semasa hidup, orang yang sudah meninggal dunia juga bisa mendapatkan manfaat dari amaliah saudaranya sesama Muslim,...

Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

Wednesday, June 12, 2019

Surga dan Neraka Tidak Kekal?

Deskripsi Masalah:
Dalam al-Qur'an surat al-Qashash ayat 88 dijelaskan bahwa segala sesuatu itu akan binasa (rusak) kecuali Allah Swt.

Pertanyaan:
Apakah surga dan neraka itu akan rusak juga?

Jawaban:
Yang dimaksud rusak pada ayat tersebut (QS. al-Qashash: 88) adalah segala sesuatu selain Dzat Allah Swt bisa (jaiz) menerima kerusakan, sedangkan Dzat Allah Swt tidak.

Terdapat delapan perkara yang dikecualikan dari ayat tersebut, di antaranya adalah surga dan neraka. Keduanya tidak akan rusak karena Allah Swt tidak menghendakinya untuk rusak.

Rujukan:
قوله كل شيء هالك إلا وجهه - أي كل ما سوى الله تعالى قابل للهلاك وجائز عليه لأن وجوده ليس ذاتيا عليه - الى أن قال - قيل : المراد بالهلاك الانعدام بالفعل، ويستثنى منه ثمانية أشياء نظمها السيوطي:
ثمانية حكم البقاء يعمها *** من الخلق والباقون في حيز العدم
هي العرش والكرسي ونار وجنة *** وعجب وأرواح كذا اللوح والقلم
حاشية العلامة الصاوي على تفسير الجلالين، 3\229-230
Share:

Thursday, July 26, 2018

Ilmu Tauhid dan Dasar-dasarnya

Pengertian Ilmu Tauhid
Ilmu Tauhid adalah:

عِلْمُ التَّوْحِيْدِ عِلْمُ يُقْتَدَرُ بِهِ عَلَى اِثْبَاتِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَّةِ - تحفة المريد : ٣٨
Suatu ilmu yang karenanya ada kemampuan untuk mengokohkan aqidah-aqidah agama dengan dalil-dalilnya yang pasti. (Al-Bajuri, Tuhfatul Murid, hlm. 38)

Ilmu ini disebut dengan Ilmu Tauhid karena di dalamnya membahas tentang keesaan Allah dan pembuktiannya. Kadangkala ilmu tauhid disebut juga Ilmu Ushuluddin, karena di dalamnya dijelaskan pokok-pokok keyakinan dalam agama Islam. Ilmu ini juga dinamakan Ilmu Kalam, karena di dalamnya menjelaskan dan membuktikan keesaan Tuhan itu memerlukan pembicaraan yang benar. 

Pentingnya Belajar Ilmu Tauhid
Ilmu Tauhid adalah ilmu yang sangat penting bagi setiap Muslim. Sebab ilmu ini menyangkut aqidah yang berkaitan dengan Islam. Sedangkan aqidah merupakan pondasi bagi keberagamaan seseorang dan benteng yang kokoh untuk memelihara aqidah Muslim dari setiap ancaman keraguan dan kesesatan.

Kita seringkali mendengar terjadinya berbagai penyimpangan dalam berpikir, berkata dan bertindak. Hal itu terjadi karena jauhnya pemahaman yang benar tentang dasar-dasar aqidah Islam dan masalah-masalah keimanan.

Prinsip-prinsip aqidah dalam Islam dan masalah-masalah keimanan adalah ajaran yang dibawa oleh para rasul sejak dahulu. Hal tersebut harus diyakini oleh setiap orang yang beriman, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ - الأنبيا: ٢٥
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (QS. al-Anbiya': 25)

Telah dimaklumi dalam ajaran agama, bahwa semua amal saleh yang dilakukan seseorang dengan penuh ketulusan hanya akan diterima Allah SWT apabila didasari dengan aqidah Islam yang benar yang menjadi bahasan Ilmu Tauhid ini. Karena penyimpangan dari aqidah yang benar berarti penyimpangan dari keimanan yang murni kepada Allah. Dan penyimpangan dari keimanan adalah bentuk kekufuran kepada Allah SWT. Sedangkan Allah SWT tidak akan menerima amal baik yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman, berapapun banyaknya amal yang dia kerjakan. Dalam hal  ini Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ - البقرة: ٢١٧
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman, maka mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. al-Baqarah: 217) 
Share:

Waktu Saat Ini


Syubbanul Wathon

Tahlilan

Tamu Online