Kajian Seputar Aqidah dan Amaliah Aswaja

Bid'ah Sahabat Nabi dalam Shahih al-Bukhari

Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah terpuji atau populer dengan sebutan bid’ah hasanah adalah setiap perbuatan baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun Nabi Muhammad SAW ...

Mengenal Sosok 'Mubham' dalam Hadits

Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi. Para sahabat yang mengetahuinya emosi...

Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru

Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya....

Sifat Shalat Nabi Ala ASWAJA

Sangat disayangkan bila dewasa ini muncul sikap-sikap yang kurang bijaksana dari kelompok tertentu yang sibuk mencari-cari kesalahan tata cara shalat kelompok lain dengan mengatakan landasannya lemah, bahkan diiringi dengan vonis bid’ah...

Mayit Bisa Menerima Manfaat dari Amal Orang yang Masih Hidup (Bagian Pertama)

Selain menerima manfaat amal kebajikan yang pernah dikerjakannya semasa hidup, orang yang sudah meninggal dunia juga bisa mendapatkan manfaat dari amaliah saudaranya sesama Muslim,...

Showing posts with label Bidayatul Hidayah. Show all posts
Showing posts with label Bidayatul Hidayah. Show all posts

Tuesday, July 16, 2019

Adab-adab Bergaul dengan Orang Lain (Bagian Kesebelas)

وَإِذَا قَرَّبَكَ السُّلْطَانُ فَكُنْ مِنْهُ عَلَى حَدِّ السِّنَانِ، وَإِيَّاكَ وَصَدِيْقَ الْعَافِيَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْدَى اْلأَعْدَاءِ، وَلاَ تَجْعَلْ مَالَكَ أَكْرَمَ مِنْ عِرْضِكَ
Waspadalah, apabila engkau didekati oleh seorang penguasa atau seseorang yang hanya mau menjadi temanmu di kala engkau sehat/makmur, hindari mereka seperti engkau menghindar dari mata pedang yang mengarah kepadamu. Sesungguhnya mereka adalah musuh yang paling nyata (yang dapat merusak agamamu). Dan janganlah engkau menjadikan hartamu lebih bernilai daripada kehormatan dirimu. 
 
وَهَذَا الْقَدْرُ يَافَتَى يَكْفِيْكَ مِنْ بِدَايَةِ الْهِدَايَةِ، فَجَرِّبْ بِهَا نَفْسَكَ؛ فَإِنَّهَا ثَلاَثَةُ أَقْسَامٍ: قِسْمٌ فِيْ آدَابِ الطَّاعَاتِ، وَقِسْمٌ فِيْ تَرْكِ الْمَعَاصِيْ، وَقِسْمٌ فِيْ مُخَالَطَةِ الْخَلْقِ
Wahai para pemuda! Semua yang telah kupaparkan ini sudah cukup bagimu untuk mencapai permulaan hidayah (bidayatul hidayah) dari Allah. Maka latihlah (dan paksalah) dirimu untuk mengamalkannya. Pembahasan dalam kitab ini terbagi ke dalam tiga bagian: bagian pertama membahas tentang adab-adab dalam menjalankan ketaatan kepada Allah; bagian kedua membahas tentang meninggalkan maksiat; dan bagian ketika membahas tentang adab-adab bergaul dengan makhluk (manusia).
 
وَهِيَ جَامِعَةٌ لِجُمَلِ مُعَامَلَةِ الْعَبْدِ مَعَ الْخَالِقِ وَالْخَلْقِ.  فَإِنْ رَأَيْتَهَا مُنَاسِبَةً لِنَفْسِكَ، وَرَأَيْتَ قَلْبَكَ مَائِلاً إِلَيْهَا رَاغِبًا فِي الْعَمَلِ بِهَا، فَاعْلَمْ: أَنَّكَ عَبْدٌ نَوَّرَ اللهُ تَعَالَى بِاْلإِيْمَانِ قَلْبَكَ، وَشَرَحَ بِهِ صَدْرَكَ
Kitab ini secara umum menjelaskan adab-adab muamalah antara seorang hamba dengan Khalik-nya maupun antara hamba dengan sesama makhluk. Maka apabila engkau melihatnya bersesuaian dengan jiwamu, hatimu pun condong kepadanya dan merasa senang mengamalkannya, maka ketahuilah, bahwa engkau adalah seorang hamba yang hatinya telah disinari Allah SWT dengan cahaya iman, dan dengannya dadamu pun menjadi lapang.
 
وَتَحَقَّقْ أَنَّ لِهَذِهِ الْبِدَايَةِ نِهَايَة، وَوَرَاءَهَا أَسْرَارًا وَأَغْوَارًا وَعُلُوْمًا وَمُكَاشَفَاتٍ، وَقَدْ أَوْدَعْنَاهَا فِيْ كِتَابِ إِحْيَاءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ؛ فَاشْتَغِلْ بِتَحْصِيْلِهِ
Yakinlah engkau bahwa permulaan hidayah ini memiliki puncak. Di baliknya terdapat berbagai rahasia yang tersembunyi, berbagai ilmu dan hakikat yang dapat dibuka tabirnya. Semua itu pembahasannya telah kami sampaikan dalam kitab Ihya’ Ulumiddin. Maka berusahalah mempelajari dan mendapatkannya.
 
وَإِنْ رَأَيْتَ نَفْسَكَ تَسْتَثْقِلُ الْعَمَلَ بِهَذِهِ الْوَظَائِفِ، وَتَنكر هَذَا الْفَنَّ مِنَ الْعِلْمِ، وَتَقُوْلُ لَكَ نَفْسُكَ: أَنَّى يَنْفَعُكَ هَذَا الْعِلْم فِيْ مَحَافِلِ الْعُلَمَاءِ؟ وَمَتَى يُقَدِّمُكَ هَذَا عَلَى اْلأَقْرَانِ وَالنُّظَرَاءِ؟! وَكَيْفَ يُرْفَعُ مَنْصِبُكَ فِي مَجَالِسِ اْلأُمَرَاءِ وَالْوُزَرَاءِ؟ وَكَيْفَ يُوْصِلُكَ إِلَى الصِّلَةِ وَاْلأَرْزَاقِ وَوِلاَيَةِ اْلأَوْقَافِْ وَالْقَضَاءِ؟
Namun, apabila engkau mendapati dirimu merasa berat mengamalkan kandungan kitab ini,  atau mengingkari ilmu yang ada di dalamnya, atau nafsumu berbisik kepadamu: “Bagaimana mungkin ilmu ini bisa bermanfaat untuk mengangkat posisimu di kalangan para ulama? Bagaimana mungkin ilmu ini bisa membuatmu mengedepan dibanding para teman dan pesaingmu? Bagaimana mungkin ilmu ini bisa mengangkat kedudukanmu di tengah majelis para penguasa dan menteri? Bagaimana mungkin ilmu ini bisa menghasilkan bagimu upah, rezki, penguasaan atas asset-aset wakaf dan otoritas untuk mengambil keputusan?”
 
فَاعْلَمْ: أَنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَغْوَاكَ وَأَنْسَاكَ مُتَقَلَّبَكَ وَمَثْوَاكَ، فَاطْلُبْ لَكَ شَيْطَانًا مِثْلَكَ، لِيُعَلِّمَكَ مَا تَظُنُّ أَنَّهُ يَنْفَعُكَ وَيُوْصِلُكَ إِلَى بُغْيَتِكَ
Maka ketahuilah, sesungguhnya setan telah menyesatkanmu serta membuatmu lupa akan tempat kembali dan rumah abadimu (negeri akhirat). Oleh karena itu, carilah untukmu setan yang semisal denganmu yang akan mengajarkan kepadamu segala hal yang menurut dugaanmu akan bermanfaat bagimu dalam meraih segala tujuan duniamu.
 
ثُمَّ اعْلَمْ: أَنَّهُ قَطُّ لاَ يَصْفُوْ لَكَ الْمُلْكُ فِيْ مَحِلَّتِكَ، فَضْلاً عَنْ قَرْيَتِكَ وَبَلَدتِكَ، ثُمَّ يَفُوْتُكَ الْمُلْكُ الْمُقِيْمُ وَالنَّعِيْمُ الدَّائِمُ فِيْ جِوَارِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Namun ketahuilah, bahwasanya semua itu (kehormatan dan kesenangan dunia) takkan pernah engkau miliki secara tetap saat berada di tengah keluargamu, terlebih di desa dan negaramu. Bahkan kemudian engkau akan kehilangan kemuliaan dan kehormatan abadi di sisi Allah, Dzat Penguasa dan Pemelihara semesta alam. 
 
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَالْحَمْدُ ِللهِ أَوَّلاً وَآخِرًا، وَظَاهِرًا وَبَاطِنًا. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah tercurah kepada kalian semua. Segala puji bagi Allah dengan pujian di awal dan di akhir, secara zhahir maupun batin. Tiada daya dan kekuatan kecuali yang berasal dari Allah, Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan dengan limpahan yang banyak kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabatnya. Amiin.
 
Selesai
Share:

Monday, July 15, 2019

Adab-adab Bergaul dengan Orang Lain (Bagian Kesepuluh)

وَكُنْ فِيْ جَمِيْعِ أُمُوْرِكَ فِيْ أَوْسَطِهَا، فَكِلاَ طَرْفَى اْلأُمُوْرِ ذَمِيْم، كَمَا قيْلَ:
Jadilah engkau orang yang selalu bersikap pertengahan dalam segala urusanmu, karena setiap sikap yang berlebihan (ekstrim) itu pasti tercela, sebagaimana yang diungkapkan dalam syair berikut:
 
عَلَيْكَ بِأَوْسَاطِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّهَا ... طَرِيْقٌ إِلَى نَهْجِ الصِّرَاطِ قَوِيْمُ
وَلاَ تَكُ فِيْهَا مُفْرِطًا أَوْ مُفَرِّطًا ... فَإِنَّ كِلاَ حَالِ اْلأُمُوْرِ ذَمِيْمُ
“Hendaklah engkau bersikap pertengahan dalam segala urusan, karena sesungguhnya ia adalah … jalan terang dan lurus menuju kebenaran
“Janganlah engkau bersikap kurang ataupun berlebihan … karena dalam urusan apa pun keduanya adalah tercela
 
وَلاَ تَنْظُرْ فِي عِطْفَيْكَ، وَلاَ تُكْثِرِ اْلاِلْتِفَاتَ إِلَى وَارَئِكَ، وَلاَ تَقِفْ عَلَى الْجَمَاعَاتِ، وَإِذَا جَلَسْتَ فَلاَ تَسْتَوْفِزْ، وَتَحَفَّظْ مِنْ تَشْبِيْكِ أَصَابِعِكَ، وَالْعَبَثِ بِلِحْيَتِكَ وَخَاتَمِكَ، وَتَخْلِيْلِ أَسْنَانِكَ، وَإِدْخَالِ أُصْبُعِكَ فِيْ أَنْفِكَ، وَكَثْرَةِ بِصَاقِكَ وَتَنَخُّمِكَ، وَطَرْدِ الذُّبَابِ عَنْ وَجْهِكَ، وَكَثْرَةِ التَّمَطِّى وَالتَّثَاؤُبِ فِيْ وُجُوْهِ النَّاسِ فِي الصَّلاَةِ وَغَيْرِهَا
Jangan engkau melirik ke kanan kirimu (dengan lirikan sinis), jangan sering-sering melihat ke arah belakang, jangan berdiri di tengah kumpulan orang, dan apabila engkau duduk maka jangan sering-sering mengangkat/menggerakkan kaki. Jaga dirimu agar tidak biasa menyilangkan jari-jari tangan, mempermainkan jenggot maupun cincinmu, mencungkil gigi dan memasukkan jari ke dalam hidung. Jangan pula engkau sering-sering meludah dan membuang dahak serta menghalau lalat dari wajahmu. Jaga dirimu agar tidak banyak menggeliatkan badan ataupun menguap saat di hadapan orang, ketika shalat, maupun pada saat-saat lainnya.
 
وَلْيَكُنْ مَجْلِسُكَ هَادِئًا، وَحَدِيْثُكَ مَنْظُوْمًا مرْتبًا، وَاصْغِ إِلَى الْكَلاَمِ الْحَسَنِ مِمَّنْ حَدَّثَكَ مِنْ غَيْرِ إِظْهَارِ تَعَجُّبٍ مُفْرِطٍ، وَلاَ تَسْأَلْهُ إِعَادَتَهُ
Hendaklah dudukmu tenang, ucapanmu teratur dan runtut, dan berikan perhatian pada ucapan baik dari orang yang berbicara kepadamu tanpa memperlihatkan rasa heran yang berlebihan. Selain itu hendaknya engkau tidak memintanya untuk mengulangi pembicaraannya.
 
وَاسْكُتْ عَنِ الْمَضَاحِكِ وَالْحِكَايَاتِ، وَلاَ تُحَدِّثْ عَنْ إِعْجَابِكَ بِوَلَدِكَ وَشِعْرِكَ وَكَلاَمِكَ وَتَصْنِيْفِكَ وَسَائِرِ مَا يَخُصُّكَ
Tahan dirimu dari sesuatu yang membuat orang tertawa dan hindari menyampaikan kisah-kisah yang lucu. Hendaknya engkau tidak menyampaikan kepada orang lain hal-hal yang berkaitan dengan kebanggaan/kekagumanmu terhadap anak-anakmu, syair-syairmu, ceramah-ceramahmu, karya-karyamu, dan segala sesuatu yang membuatmu merasa istimewa.
 
وَلاَ تَتَصَنَّعْ تَصَنُّعَ الْمَرْأَةِ فِي التَّزَيُّنِ، وَلاَ تَتَبَذَّلْ تَبَذُّلَ الْعَبْدِ، وَتَوَقَّ كَثْرَةَ الْكِحْلِ وَاْلإِسْرَافِ فِي الدُّهْنِ، وَلاَ تُلِحَّ فِي الْحَاجَاتِ، وَلاَ تُشَجِّعْ أَحَداً عَلَى الظُّلْمِ
Jangan berbuat seperti seorang perempuan dalam hal berhias dan jangan pula berpenampilan seperti tampilan seorang hamba sahaya. Jangan berlebihan dalam menggunakan celak dan minyak wangi. Jangan sekali-kali mendesak orang lain agar memenuhi kebutuhanmu dan jangan pula menganjurkan pada orang lain untuk berbuat kezaliman. 
 
وَلاَ تُعْلِمْ أَحَدًا مِنْ أَهْلِكَ وَوَلَدِكَ --فَضْلاً عَنْ غَيْرِهِمْ-- مِقْدَارَ مَالِكَ؛ فَإِنَّهُمْ إِنْ رَأَوْهُ قَلِيْلاً هِنْتَ عَلَيْهِمْ، وَإِنْ رَأَوْهُ كَثِيْرًا لَمْ تَبْلُغْ رِضَاهُمْ قَطُّ، وَاجْفُهُمْ مِنْ غَيْرِ عُنْفٍ، وَلنْ لَهُمْ مِنْ غَيْرِ ضَعْفٍ، وَلاَ تُهَازِلْ أَمَتَكَ وَلاَ عَبْدَكَ فَيَسْقُطَ وَقَارُكَ مِنْ قُلُوْبِهِمْ
Hendaklah engkau tidak memberitahukan kepada seorang pun di antara istri dan anakmu tentang –kelebihan yang engkau miliki dibanding orang lain— dalam hal yang berhubungan dengan jumlah harta; karena jika ternyata mereka melihatnya sedikit maka engkau akan merasa rendah di hadapan mereka. Namun sebaliknya, jika ternyata mereka melihatnya banyak, tetap saja jumlah itu takkan mencukupi untuk memuaskan (kebutuhan) mereka. Tegaslah pada mereka, bukan bersikap kejam dan kasar. Berlemah-lembutlah pada mereka, bukan bersikap lemah. Jangan bergurau dengan dengan sahayamu, baik yang laki-laki maupun perempuan, karena hal itu akan meruntuhkan kewibawaanmu dalam pandangan mereka.
 
وَإِذَا خَاصَمْتَ فَتَوَقَّرْ، وَتَحَفَّظْ مِنْ جَهْلِكَ وَعَجَلَتِكَ، وَتَفَكَّرْ فِيْ حُجَّتِكَ، وَلاَ تُكْثِرِ اْلاِشَارَةَ بِيَدِكَ، وَلاَ تُكْثَرْ اْلاِلْتِفَاتَ إِلَى وَرَائِكَ، وَلاَ تَجْثُ عَلَى رُكْبَتَيْكَ، وَإِذَا هَدَأَ غَضَبُكَ فَتَكَلَّمْ
Apabila engkau berdebat/berdiskusi (dalam masalah ilmu), hendaklah engkau bersikap tenang dan berwibawa. Kendalikan dirimu jangan sampai bersikap bodoh dan tergesa-gesa. Pikirkan dengan baik hujjah (argumentasi) yang akan engkau sampaikan. Jangan terlalu sering berisyarat dengan tanganmu, jangan banyak menoleh kepada orang-orang yang ada di belakangmu dan jangan pula duduk setengah berdiri di atas lututmu. Apabila amarahmu telah mereda, barulah engkau berbicara.
 
Bersambung...
Share:

Sunday, July 14, 2019

Adab-adab Bergaul dengan Orang Lain (Bagian Kesembilan)

Semua itu adalah sikap-sikap yang harus engkau perlihatkan kepada orang yang jelas-jelas ingin bersahabat denganmu. Lalu, bagaimana mestinya engkau bersikap terhadap orang yang memperlihatkan permusuhan kepadamu?
 
قَالَ الْقَاضِي ابْنُ مَعْرُوْفٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى:
Berkata al-Qadhi Ibnu Ma’ruf rahimahullah:
 
فَاحْذَرْ عَدُوَّكَ مَرَّةً ... وَاحْذَرْ صَدِيْقَكَ أَلْفَ مَرَّةٍ
فَلَرُبَّمَا انْقَلَبَ الصَّدِيْقُ ... فَكَانَ اَعْرَفُ بِالْمَضَرَّةِ
“Berhati-hatilah terhadap musuhmu satu kali … namun berhati-hatilah terhadap temanmu seribu kali
“Karena tatkala  temanmu itu berbalik memusuhimu … maka ia akan tahu bagaimana menimpakan mudharat bagimu
 
وَكَذَلِكَ قَالَ ابْنُ تَمَّامٍ:
 Demikian pula Ibnu Tammam, ia berkata:
 
عَدُوُّكَ مِنْ صَدِيْقِكَ مُسْتَفَادٌ ... فَلاَ تَسْتَكْثِرَنَّ مِنَ الصِّحَابِ
فَإِنَّ الدَّاءَ أَكْثَرَ مَا تَرَاهُ ...  يَكُوْنُ مِنَ الطَّعَامِ أَوِ الشَّرَابِ
“Musuhmu kadang-kadang memanfaatkan temanmu …Maka hendaklah engkau tidak memperbanyak teman
“Karena sebagaimana yang engkau lihat kebanyakan penyakit itu …muncul melalui makanan atau minuman
 
وَكُنْ كَمَا قَالَ هِلاَلُ بْنُ الْعَلاَءِ الرَّقِّى:
Jadilah engkau sebagaiman yang dikatakan oleh Hilal bin al-‘Ala’ ar-Raqiy:
 
لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أََحْقِدْ عَلَى أَحَدٍ ... أَرَحْتُ نَفْسِى مِنْ هَمِّ الْعَدَاوَاتِ
إِنِّيْ أُحَيِّى عَدُوِّى عِنْدَ رُؤْيَتِهِ ... لِأَدْفَعَ الشَّرَّ عَنىِّ بِالتَّحِيَّاتِ
وَأُظْهِرُ الْبِشْرَ لِلْإِنْسَانِ أَبْغَضُهُ ... كَأَنَّهُ قَدْ مَلاَ قَلْبِى مَسَرَّاتِ
وَلَسْتُ أَسْلَمُ مِمَّنْ لَسْتَ أَعْرِفُهُ ... فَكَيْفَ أَسْلَمُ مِنْ أَهْلِ الْمَوَدَّاتِ
اَلنَّاسُ دَاءٌ دَوَاءُ النَّاسِ تَرْكُهُمُ ... وَفِي الْجَفَاءِ لَهُمْ قَطْعُ اْلأُخُوَّاتِ
فَسَالِمِ النَّاسِ تَسْلَمْ مِنْ غَوَائِلِهِمْ ... وَكُنْ حَرِيْصاً عَلَى كَسْبِ الْتَقِيَّاتِ
وَخَالِقِ النَّاسَ وَاصْبِرْ مَا بُلِيْتَ بِهِمْ ... اَصَمَّ اَبْكَمَ اَعْمَى ذَا تَقِيَّاتِ
“Setiap kali aku memaafkan dan tidak menyimpan dendam pada seseorang … maka jiwaku lega dan terbebas dari bahaya permusuhan
“Sungguh kuberikan penghormatan pada musuhku saat bertemu dengannya … agar dengan penghormatan aku dapat menolak keburukannya terhadapku
“Kuperlihatkan raut wajah gembira saat bertemu dengan orang yang kubenci … seakan-akan hatiku telah dipenuhinya dengan kebahagiaan
“Seringkali aku tidak selamat dari bahaya orang yang tidak kukenal … lalu bagaimana mungkin aku bisa selamat dari keburukan orang-orang yang terlihat mencintaiku
“Manusia adalah penyakit dan obatnya adalah meninggalkan mereka … namun dengan menjauhi mereka akan terputus persaudaraan
“Oleh karena itu, berdamailah dengan manusia, niscaya engkau akan selamat dari keburukan mereka … jadilah engkau orang yang selalu bersemangat mencari suasana damai
 “Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik dan bersabarlah atas segala ujian yang berasal dari sikap-sikap mereka … bersikaplah laksana seorang yang tuli, bisu dan buta terhadap keburukan mereka dan lazimkan sifat takwa
 
وَكُنْ أَيْضًا كَمَا قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: اِلْقَ صَدِيْقَكَ وَعَدُوَّكَ بِوَجْهِ الرِّضَا، مِنْ غَيْرِ مَذَلَّةٍ لَهُمَا، وَلاَ هَيْبَةٍ مِنْهُمَا، وَتَوَقَّرْ مِنْ غَيْرِ كِبْرٍ، وَتَوَاضَعْ مِنْ غَيْرِ مَذَلَّةٍ
Dan jadilah engkau seperti yang pernah dikatakan oleh sebagian ahli hikmah: “Temuilah temanmu maupun musuhmu dengan wajah yang penuh ridha, namun bukan karena merasa hina di hadapan mereka dan bukan pula karena takut pada mereka. Tampakkan kewibawaan tanpa adanya rasa sombong, dan rendahkan hati tanpa memunculkan kesan hina.”
 
Bersambung...
Share:

Saturday, July 13, 2019

Adab-adab Bergaul dengan Orang Lain (Bagian Kedelapan)

وَاحْذَرْ مُخَالَطَةَ مُتَفَقِّهَةِ الزَّمَانِ، لاَ سِيَمَا الْمُشْتَغِلِيْنَ بِالْخِلاَفِ وَالْجِدَالْ. وَاحْذَرْ مِنْهُمْ؛ فَإِنَّهُمْ يَتَرَبَّصُوْنَ بِكَ لِحَسَدِهِمْ رَيْبَ الْمَنُوْنِ
Berhati-hatilah! Hindarilah bergaul dengan para ahli fiqh pada zaman ini, yakni mereka yang gemar dalam perbedaan pendapat dan perdebatan. Waspadalah terhadap mereka; karena mereka memandang ke arahmu dengan pandangan hasad; bahkan mereka senantiasa menunggu saat-saat kejatuhanmu.
 
وَيَقْطَعُوْنَ عَلَيْكَ بِالظُّنُوْنِ، وَيَتَغَامَزُوْنَ وَرَاءَكَ بِالْعُيُوْنِ، وَيُحْصُوْنَ عَلَيْكَ عَثَرَاتِكَ فِيْ عِشْرَتِهِمْ حَتَّى يُجْبِهُوْكَ بِهَا فِيْ حَالِ غَيْظِهِمْ وَمُنَاظَرَتِهِمْ، لاَ يُقِيْلُوْنَ لَكَ عَثْرَةً، وَلاَ يَغْفِرُوْنَ لَكَ زَلَّةً، وَلاَ يَسْتُرُوْنَ لَكَ عَوْرَةً
Mereka akan memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan dirimu berdasarkan pada prasangka-prasangka mereka. Mereka pun akan saling memberi isyarat dengan mata mereka saat berada di belakangmu dengan maksud merendahkanmu. Mereka akan menghitung semua kesalahanmu saat berkumpul dengan mereka, kemudian berbagai kesalahan itu akan mereka hantamkan kepadamu ketika mereka marah atau saat berdebat denganmu. Mereka tidak akan melupakan satu pun kesalahanmu dan tidak pula memaafkanmu atas kesalahan itu, dan mereka tidak akan mau menutupi kekuranganmu.
 
يُحَاسُبُوْنَكَ عَلَى النَّقِيْرِ وَالْقَطْمِيْرِ، وَيَحْسُدُوْنَكَ عَلَى الْقَلِيْلِ وَالْكَثِيْرِ، وَيُحَرِّضُوْنَ عَلَيْكَ اْلإِخْوَانَ بِالنَّمِيْمَةِ، وَالْبَلاَغَاتِ وَالْبُهْتَانِ؛ إِنْ رَضَوْا فَظَاهِرُهُمُ الْمَلَقُ، وَإِنْ سَخَطُوْا فَبَاطِنُهُمُ الْحَنَقُ، ظَاهِرُهُمْ ثِيَابٌ، وَبَاطِنُهُمْ ذِئَابٌ
Mereka akan selalu membuat perhitungan denganmu sekalipun terhadap hal-hal yang sepele. Mereka juga iri kepadamu baik terhadap perkara yang sedikit maupun banyak. Mereka mendorong para teman untuk mempergunjingkan dirimu, mengadu-adu dan menebar kebohongan tentang pribadimu. Tatkala mereka ridha terhadapmu, maka mereka akan memperlihatkan sikap lembut penuh persahabatan. Namun saat mereka membencimu, maka mereka akan berubah menjadi kasar dan kaku. Zhahir mereka indah laksana pakaian yang mereka kenakan, namun batin mereka sangat liar dan kejam.
 
هَذَا حُكْمُ مَا قَطَعَتْ بِهِ الْمُشَاهَدَةُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ، إِلاَّ مِنْ عِصْمَةِ اللهِ تَعَالَى؛ فَصُحْبَتُهُمْ خُسْرَانٌ، وَمُعَاشَرَتُهُمْ خُذْلاَنٌ
Semua yang disebutkan ini merupakan kenyataan yang dapat disaksikan pada kebanyakan mereka, kecuali para ahli fiqh yang dilindungi Allah Ta’ala dari sifat-sifat buruk tersebut. Berteman dengan mereka adalah suatu kerugian dan berkumpul dengan mereka adalah pangkal kehinaan.
 
Bersambung...
Share:

Tuesday, July 9, 2019

Adab-adab Bergaul dengan Orang Lain (Bagian Ketujuh)

وَإِذَا سَأَلْتَ وَاحِدًا حَاجَةً فَقَضَاهَا، فَاشْكُرِ اللهَ تَعَالَى وَاشْكُرْهُ، وَإِنْ قَصَّرَ فَلاَ تُعَاتِبْهُ وَلاَ تَشْكِهِ فَتَصِيْرَ عَدَوَاةً، وَكُنْ كَالْمُؤْمِنِ يَطْلُبُ الْمَعَاذِيْرَ، وَلاَ تَكُنْ كَالْمُنَافِقِ يَطْلُبُ الْعُيُوْبَ، وَقُلْ لَعَلَّهُ قَصَّرَ لِعُذْرٍ لَهُ لَمْ أَطَّلِعْ عَلَيْهِ
Apabila engkau menyampaikan suatu kebutuhan kepada seseorang, lalu ia memenuhinya, maka bersyukurlah kepada Allah dan berterimakasihlah kepadanya. Namun bila ia tidak dapat memenuhinya, hendaklah engkau tidak mencelanya dan tidak pula menceritakannya pada yang lain, karena hal itu bisa menyulut permusuhan dengannya. Jadilah engkau seorang mukmin yang bisa menerima alasan orang lain dan jangan menjadi seorang munafik yang selalu mencari-mencari keburukan orang. Katakan: “Mungkin dia tidak bisa memenuhinya karena adanya suatu alasan yang tidak kuketahui.”
 
وَلاَ تَعِظَنَّ أَحَدًا مِنْهُمْ مَا لَمْ تَتَوَسَّمْ فِيْهِ أَوَّلاً مَخَايلَ الْقَبُوْلِ، وَإِلاَّ لَمْ يَسْتَمِعْ مِنْكَ وَصَارَ خَصْمًا عَلَيْكَ، فَإِذَا أَخْطَئُوْا فِيْ مَسْأَلَةٍ، وَكَانُوْا يَأْنَفُوْنَ مِنَ التَّعَلُّمِ مِنْكَ، فَلاَ تُعَلِّمْهُمْ فَإِنَّهُمْ يَسْتَفِيْدُوْنَ مِنْكَ عِلْمًا، وَيُصْبِحُوْنَ لَكَ أَعْدَاءً، إِلاَّ إِذَا تَعَلَّقَ ذَلِكَ بِمَعْصِيَةٍ يُقَارِفُوْنَهَا عَنْ جَهْلٍ مِنْهُمْ، فَاذْكُرِ الْحَقَّ بِلُطْفٍ مِنْ غَيْرِ عَنْفٍ
Kemudian, janganlah engkau menasihati salah seorang dari mereka sebelum terlebih dahulu engkau melihat tanda-tanda bahwa ia akan menerima nasihatmu. Jika tanda-tanda itu tidak ada, maka ia tidak akan mau mendengarkan nasihat yang engkau sampaikan, bahkan bisa jadi ia akan membantah/menentangmu. Apabila dalam satu masalah mereka melakukan kesalahan, namun mereka enggan belajar/bertanya kepadamu, maka janganlah engkau mengajari/menasihati mereka. Karena bila hal itu engkau lakukan maka mereka hanya akan mengambil ilmu/manfaat saja darimu, kemudian bersikap memusuhimu. Kecuali jika kesalahan itu berupa kemaksiatan yang mereka lakukan karena kebodohan mereka, maka ingatkanlah mereka kepada kebenaran dengan cara-cara yang lembut tanpa disertai kekerasan.
 
وِإِذَا رَأَيْتَ مِنْهُمْ كَرَامَةً وَخَيْرًا، فَاشْكُرِ اللهَ الَّذِيْ حَبَّبَكَ إِلَيْهِمْ. وَإِذَا رَأَيْتَ مِنْهُمْ شَرًّا، فَكِلْهُمْ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّهِمْ، وَلاَ تُعَاتِبْهُمْ، وَلاَ تَقُلْ لَهُمْ: لِمَ لَمْ تَعْرِفُوْا حَقِّي؛ وَأَنَا فُلاَنٌ بْنُ فُلاَنٍ، وَأَناَ الْفَاضِلُ فِي الْعُلُوْمِ؟! فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ كَلاَمِ الْحَمْقَى، وَأَشَدُّ النَّاسِ حَمَاقَةً مَنْ يُزَكِّيْ نَفْسَهُ وَيُثْنِي عَلَيْهَا
Apabila engkau melihat adanya sikap memuliakan dan baik dari mereka, hendaklah engkau bersyukur kepada Allah yang telah memasukkan rasa cinta kepadamu dalam diri mereka. Namun jika engkau melihat sikap buruk dari mereka, hendaklah engkau menyerahkannya kepada Allah. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukan mereka, jangan mencela mereka, dan jangan pula engkau berkata kepada mereka: “Bagaimana kalian ini, kok tidak menghargaiku. Aku adalah fulan bin fulan, dan aku adalah orang yang memiliki keutamaan di berbagai  bidang ilmu?!” Karena sungguh ucapan yang demikian itu adalah ucapan seorang yang sangat bodoh, yakni orang yang memuji-muji dan menganggap suci dirinya sendiri.
 
وَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يُسَلِّطُهُمْ عَلَيْكَ إِلاَّ بِذَنْبٍ سَبَقَ مِنْكَ، فَاسْتَغْفِرِ اللهَ مِنْ ذَنْبِكَ
Ketahuilah bahwa Allah SWT tidak akan menguasakan mereka atas dirimu (sehingga mereka berbuat buruk kepadamu) kecuali karena dosa yang telah engkau lakukan. Oleh karena itu, mohonlah ampun kepada Allah atas segala dosamu.
 
وَاعْلَمْ أَنَّ ذَلِكَ عُقُوْبَةٌ مِنَ اللهِ تَعَالَى
Dan ketahuilah bahwa hal itu sebagai hukuman untukmu dari Allah Ta’ala. 
 
وَكُنْ فِيْمَا بَيْنَهُمْ سَمِيْعًا لِحَقِّهِمْ، أَصَمَّ عَنْ بَاطِلِهِمْ، نَطُوْقًا بِمَحَاسِنِهِمْ، صَمُوْتًا عَنْ مَسَاوِيْهِمْ
Jadilah engkau orang yang hanya mendengar hal-hal yang benar dari mereka, menutup telinga dari segala yang batil dari mereka, menyebut-menyebut kebaikan mereka, dan menahan diri dari mengungkapkan kejelekan mereka.
 
Bersambung....
Share:

Monday, July 1, 2019

Adab-adab Bergaul dengan Orang Lain (Bagian Keenam)

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ، وَهُمُ الْمَعَارِفُ: فَاحْذرْ مِنْهُمْ؛ فَإِنَّكَ لاَ تَرَ الشَّرَّ إِلاَّ مِمَّنْ تَعْرِفُهُ، أَمَّ الصَّدِيْقُ فَيُعِيْنُكَ، وَأَمَّا الْمَجْهُوْلُ فَلاَ يَتَعَرَّضُ لَكَ، وَإِنَّمَا الشَّرُّ كُلُّهُ مِنَ الْمَعَارِفِ الَّذِيْنَ يُظْهِرُوْنَ الصَّدَاقَةَ بِأَلْسِنَتِهِمْ
Ada pun kelompok yang ketiga adalah para kenalan. Hendaklah berhati-hati terhadap mereka; karena sungguh engkau tidak akan menjumpai keburukan kecuali dari orang-orang yang telah engkau kenal. Adapun seorang sahabat sejati, maka ia akan menolongmu. Sedangkan orang yang tidak engkau kenal, maka ia tidak akan peduli terhadapmu. Sesungguhnya segala keburukan berasal dari para kenalan yang memperlihatkan persahabatan hanya pada lisan mereka saja.

فَأَقْلَلْ مِنَ الْمَعَارِفِ مَا قَدِرْتَ، فَإِذَا بُلِيْتَ بِهِمْ فِيْ مَدْرَسَةٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ جَامِعٍ أَوْ سُوْقٍِ أَوْ بَلَدٍ، فَيَجِبُ أَنْ لاَ تَسْتَصْغِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا؛ فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِيْ لَعَلَّهُ خَيْرٌ مِنْكَ، وَلاَ تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ بِعَيْنِ التَّعْظِيْمِ لَهُمْ فِيْ حَالِ دُنْيَاهُمْ فَتَهْلِك، ِلأَنَّ الدُّنْيَا صَغِيْرَةٌ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى، صَغِيْرٌ مَا فِيْهَا، وَمَهْمَا عَظُمَ أَهْلَ الدُّنْيَا فِيْ قَلْبِكَ فَقَدْ سَقَطْتَ مِنْ عَيْنِ اللهِ تَعَالَى
Oleh karena itu, hendaklah engkau berusaha mengurangi kenalan sesuai dengan kemampuanmu. Namun apabila engkau diuji oleh Allah dengan kehadiran mereka di sekolah atau di masjid atau di pasar atau di suatu negara, maka wajib bagimu untuk tidak bersikap merendahkan seorang pun dari mereka; karena engkau tidak tahu bisa saja ia justru lebih baik darimu. Namun engkau pun hendaknya tidak memandang mereka dengan pandangan penuh ta’zhim disebabkan faktor keduniaan (kekayaan) mereka karena hal itu bisa menyebabkan engkau celaka. Sungguh dunia ini kecil dalam pandangan Allah, sekecil segala hal yang ada di dalamnya. Maka, manakala hatimu merasa kagum dan mengagungkan ahli dunia, sungguh nilaimu telah jatuh dalam pandangan Allah Ta’ala.

وَإِيَّاكَ أَنْ تَبْذُلَ لَهُمْ دِيْنَكَ لِتَنَالَ بِهِ مِنْ دُنْيَاهُمْ؛ فَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ أَحَدٌ إِلاَّ صغْرَ فِيْ أَعْيُنِهِمْ ثُمَّ حُرِمَ مَا عِنْدَهُمْ. وَإِنْ عَادُوْكَ فَلاَ تُقَابِلْهُمْ بِالْعَدَاوَةِ؛ فَإِنَّكَ لاَ تُطِيْقُ الصَّبْرَ عَلَى مُكَافَأَتِهِمْ، فَيَذْهَبُ دِيْنكَ فِيْ عَدَاوَتِهِمْ، وَيَطُوْلُ عَنَاؤُكَ مَعَهُمْ
Berhati-hatilah. Jangan sampai engkau mengorbankan agamamu hanya untuk memperoleh dunia dari mereka; tidak seorang pun yang melakukan hal itu kecuali menjadi hina dalam pandangan mereka dan akhirnya ia akan terhalang untuk mendapatkan apa pun dari mereka. Apabila mereka memusuhimu, maka janganlah engkau menghadapinya dengan sikap permusuhan pula; karena engkau tidak akan mampu bersabar menghadapi cara-cara permusuhan yang mereka gunakan. Rusak agamamu bila engkau tanggapi permusuhan mereka dan engkau pun akan lelah dibuatnya.

وَلاَ تَسْكُنْ إِلَيْهِمْ فِيْ حَالِ إِكْرَامِهِمْ إِيَّاكَ، وَثَنَائِهِمْ عَلَيْكَ فِيْ وَجْهِكَ، وَإِظْهَارِهِمُ الْمَوَدَّةَ لَكَ؛ فَإِنَّكَ إِنْ طَلَبْتَ حَقِيْقَةَ ذَلِكَ لَمْ تَجِدْ فِي الْمِائَةِ وَاحِدًا، وَلاَ تَطْمَعْ أَنْ يَكُوْنُوْا لَكَ فِي السِرِّ وَالْعَلَنِ وَاحِدًا
Janganlah engkau merasa tenang atau terlalu percaya pada mereka hanya karena sikap hormat yang mereka perlihatkan padamu, pujian yang mereka sampaikan saat berada di hadapanmu, dan cinta kasih yang mereka tampakkan untukmu. Karena jika engkau mencari hakikat yang sesungguhnya niscaya engkau tidak akan menemukannya kecuali hanya satu di antara seratus orang dari mereka, Jangan pula terlalu berharap mereka akan bersikap sama terhadapmu, ketika mereka jauh darimu dan ketika mereka di hadapanmu. 

وَلاَ تَتَعَجَّبْ إِنْ ثَلَبُوْكَ فِيْ غَيْبَتِكَ، وَلاَ تَغْضَبْ مِنْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ أَنْصَفْتَ وَجَدْتَ مِنْ نَفْسِكَ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى فِيْ أَصْدِقَائِكَ وَأَقَارِبِكَ، بَلْ فِيْ أُسْتَاذِكَ وَوَالِدَيْكَ؛ فَإِنَّكَ تَذْكُرُهُمْ فِي الْغَيْبَةِ بِمَا لاَ تُشَافِهُهُمْ بِهِ
Engkau tak perlu merasa heran bila mereka mencelamu ketika engkau sedang tidak ada. Tak perlu juga marah karena sikap mereka itu, karena jika engkau mau bersikap jujur niscaya akan kau dapati dirimu juga melakukan hal yang sama terhadap sahabatmu, kerabatmu, bahkan terhadap gurumu dan kedua orangtuamu. Engkau akan menyebut-nyebut tentang mereka saat mereka tidak ada dengan sesuatu yang tak pernah engkau ucapkan saat bersama mereka. 

فَاقْطَعْ طَمَعَكَ عَنْ مَالِهِمْ وَجَاهِهِمْ وَمَعُوْنَتِهِمْ، فَإِنَّ الطَّامِعَ فِي اْلأَكْثَرِ خَائِبٌ فِي الْمَالِ، وَهُوَ ذَلِيْلٌ لاَ مَحَالَةَ فِي الْحَالِ
Oleh karena itu, putuskanlah ketamakanmu terhadap harta, kedudukan dan bantuan mereka. Karena sungguh orang yang tamak itu pada umumnya akan merugi di kemudian hari dan secara pasti akan dipandang hina.
Bersambung...
Share:

Tuesday, June 25, 2019

Adab-adab Bergaul dengan Orang Lain (Bagian Kelima)

الْوَظِيْفَةُ الثَّانِيَةُ: مُرَاعَاةُ حُقُوْقِ الصُّحْبَةِ. فَمَهْمَا انْعَقَدَتْ الشَّرِكَةُ، وَانْتَظَمَتْ بَيْنَكَ وَبَيْنَ شَرِيْكِكَ الصُّحْبَةُ، فَعَلَيْكَ حُقُوْقٌ يُوْجِبُهَا عَقْدُ الصُّحْبَةِ، وَفِي الْقِيَامِ بِهَا آدَابٌ، وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ اْلأَخَوَيْنِ مَثَلُ الْيَدَيْنِ تَغْسِلُ إِحْدَاهُمَا اْلأُخْرَى
Tugas Kedua: Hendaklah engkau memenuhi hak-hak persahabatan. Tatkala persahabatan telah terjalin, dan kebersamaan antara dirimu dan sahabatmu pun telah terbina, maka engkau memiliki hak-hak sekaligus kewajiban yang mesti engkau penuhi dalam persahabatan itu, dan juga terdapat adab-adab yang harus diperhatikan di dalamnya. Rasulullah SAW telah bersabda: “Permisalan dua orang yang bersahabat seperti permisalan dua tangan yang saling membasuh antara satu dengan yang lain.”
 
وَدَخَلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجَمَةً، فَاجْتَنَى مِنْهَا سِوَاكَيْنِ، أَحَدُهُمَا مِعْوَجٌّ، وَاْلآخَرُ مُسْتَقِيْمٌ، وَكَانَ مَعَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ، فَأَعْطَاهُ الْمُسْتَقِيْمَ، وَأَمْسَكَ لِنَفْسِهِ الْمِعْوَجَّ، فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ، أَنْتَ أَحَقُّ مِنِّيْ بِالْمُسْتَقِيْمِ، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ صَاحِبٍ يَصْحَبُ صَاحِبًا وَلَوْ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ إِلاَّ وَيُسْئَلُ عَنْ صُحْبَتِهِ، هَلْ أَقَامَ فِيْهَا حَقَّ اللهِ تَعَالَى أَوْ أَضَاعَهُ
Suatu ketika Nabi SAW masuk ke dalam semak belukar, lalu mengambil dua batang kayu siwak. Yang satu bengkok sedangkan yang lainnya lurus. Saat itu beliau bersama seorang sahabat yang kepadanya beliau berikan kayu siwak yang lurus, sementara yang bengkok beliau ambil untuk dirinya sendiri. Maka berkatalah sahabat itu, “Ya Rasulullah, engkau lebih berhak atas kayu siwak yang lurus ini daripada aku.” Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Tidaklah seseorang bersahabat dengan sahabatnya meksipun hanya sesaat, kecuali akan ditanya tentang persahabatannya itu, apakah ia memenuhi hak-hak Allah di dalamnya atau menyia-nyiakannya.”
 
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اصْطَحَبَ اِثْنَانِ قَطُّ إِلاَّ وَكَانَ أَحَبُّهُمَا إِلَى اللهِ تَعَالَى أَرْفَقَهُمَا بِصَاحِبِهِ
Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidaklah dua orang yang bersahabat, melainkan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling penyayang terhadap sahabatnya.”
 
وَآدَابُ الصُّحْبَةِ: اْلاِيْثَارُ بِالْمَالِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ هَذَا فَبَذْلُ الْفَضْلِ مِنَ الْمَالِ عِنْدَ الْحَاجَةِ؛ وَاْلإِعَانَةُ بِالنَّفْسِ فِي الْحَاجَاتِ عَلَى سَبِيْلِ الْمُبَادَرَةِ مِنْ غَيْرِ اِحْوَاجٍ إِلَى التِّمَاسٍ؛ وَكِتْمَانُ السِّرِّ، وَسَتْرُ الْعُيُوْبِ، وَالسُّكُوْتُ عَلَى تَبْلِيْغِ مَا يَسُوْؤُهُ مِنْ مَذَمَّةِ النَّاسِ إِيَّاهُ؛ وَإِبْلاَغُ مَا يَسُرُّهُ مِنْ ثَنَاءِ النَّاسِ عَلَيْهِ، ، وَحُسْنِ اْلإِصْغَاءِ عِنْدَ الْحَدِيْثِ، وَتَرْكُ الْمُمَارَاةِ فِيْهِ
Ada pun adab-adab yang harus diperhatikan dalam menjalani persahabatan adalah sebagai berikut: (1) Dalam persoalan yang berkaitan dengan harta, hendaklah engkau lebih mengutamakan sahabatmu dibanding dirimu sendiri. Apabila engkau tidak mampu melakukan hal yang demikian itu, maka hendaklah engkau memberikan harta pada sahabatmu itu pada saat ia membutuhkan dalam jumlah yang lebih dari yang ia butuhkan. (2) Hendaklah engkau memberikan bantuan kepada sahabatmu itu dalam memenuhi hajatnya dengan segera tanpa diminta dan tanpa berpikir panjang. (3) Hendaklah engkau menjaga rahasia dan menutupi aib sahabatmu, serta tidak menyampaikan kepadanya ucapan-ucapan orang yang mencelanya karena itu dapat membuatnya menjadi sedih. (4) Menyampaikan padanya berbagai pujian yang dikatakan orang tentangnya yang dengan hal itu ia akan merasa senang, menyimak pembicaraannya dengan baik dan tidak berdebat dengannya.
 
وَأَنْ يَدْعُوْهُ بِأَحَبِّ أَسْمَائِهِ إِلَيْهِ، وَأَنْ يُثْنِيَ عَلَيْهِ بِمَا يَعْرِفُ مِنْ مَحَاسِنِهِ، وَأَنْ يَشْكُرَهُ عَلَى صَنِيْعِهِ فِيْ وَجْهِهِ، وَأَنْ يَذُبَّ عَنْهُ فِيْ غَيْبَتِهِ إِذَا تُعُرِّضَ لِعِرْضِهِ كَمَا يَذُبُّ عَنْ نَفْسِهِ، وَأَنْ يَنْصَحَهُ بِاللُّطْفِ وَالتَّعْرِيْضِ إِذَا احْتَاجَ إِلَيْهِ؛ وَأَنْ يَعْفُوَ عَنْ زَلَّتِهِ وَهَفْوَتِهِ، وَلاَ يَعْتِبَ عَلَيْهِ؛ وَأَنْ يَدْعُوَ لَهُ فِيْ خَلْوَتِهِ فِيْ حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ؛ وَأَنْ يُحْسِنَ الْوَفَاءَ مَعَ أَهْلِهِ وَأَقَارِبِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ
(5) Hendaklah engkau memanggilnya dengan nama panggilan yang ia sukai, memuji sifat-sifat baiknya, berterima kasih atas segala kebaikan yang telah dilakukannya, membela kehormatannya sebagaimana engkau membela kehormatanmu sendiri sekalipun pada saat itu ia tidak ada di hadapanmu, dan memberi nasihat padanya dengan cara yang lembut dan menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaannya apabila dibutuhkan. (6) Memaafan kesalahan dan kekeliruannya serta tidak mencelanya. (7) Mendoakan kebaikan untuknya secara sembunyi-sembunyi, baik di kala hidupnya maupun setelah kematiannya. (8) Tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga dan kerabatnya setelah kematiannya.
 
وَأَنْ يُؤْثِرَ التَّخْفِيْفَ عَنْهُ، فَلاَ يُكَلِّفَهُ شَيْئًا مِنْ حَاجَاتِهِ، فَيُرَوِّحُ سِرَّهُ مِنْ مُهِمَّاتِهِ، وَأَنْ يُظْهِرَ الْفَرَحَ بِجَمِيْعِ مَا يَرْتَاحُ لَهُ مِنْ مَسَارِّهِ، وَالْحُزْنُ عَلَى مَا يَنَالُهُ مِنْ مَكَارِهِهِ، وَأَنْ يُضْمِرَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْلَ مَا يُظْهِرُهُ، فَيَكُوْنُ صَادِقًا فِيْ وِدِّهِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً؛ وَأَنْ يَبْدَأَهُ بِالسَّلاَمِ عِنْدَ إِقْبَالِهِ، وَأَنْ يُوْسِعَ لَهُ فِي الْمَجْلِسِ؛ وَيُخْرِجَ لَهُ مِنْ مَكَانِهِ، وَأَنْ يُشَيِّعَهُ عِنْدَ قِيَامِهِ؛ وَأَنْ يَصْمُتَ عِنْدَ كَلاَمِهِ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ كَلاَمِهِ، وَيَتْرُكَ الْمُدَاخَلَةَ فِيْ كَلاَمِهِ.
(9) Hendaklah engkau lebih memilih untuk bersikap meringankan beban sahabatmu dan jangan engkau bebani dia dengan satu kebutuhan pun, maka dengan cara itu hatinya akan menjadi lapang dari berbagai hal penting yang dapat membebaninya. Hendaklah engkau menampakkan rasa gembira atas segala hal yang menggembirakannya dan memperlihatkan rasa sedih saat ia mengalami hal-hal yang membuatnya bersedih. Hedaklah yang tersembunyi di dalam hatimu sama seperti yang tampak pada sikap zahirmu, sehingga engkau benar-benar menjadi sahabat yang tulus dalam kasih sayang, baik secara terang-terangan maupun rahasia. (10) Mendahului mengucapkan salam saat bertemu dengannya dan meluaskan tempat baginya saat berada dalam majelis. (11) Keluar menyambut kedatangannya dan mengantarkannya saat ia beranjak dari tempat duduknya untuk pergi. (12) Diam dan mendengarkan dengan baik saat ia berbicara hingga ia menyudahi pembicaraannya dan tidak memotong pembicaraannya.
 
وَعَلَى الْجُمْلَةِ فَيُعَامِلَهُ بِمَا يُحِبُّ أَنْ يُعَامَلَ بِهِ، فَمَنْ لاَ يُحِبُّ ِلأَخِيْهِ مِثْلَ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ فَأُخُوَّتُهُ نِفَاقٌ، وَهِيَ عَلَيْهِ وَبَالٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
Kesimpulannya, seseorang hendaklah melakukan kepada sahabatnya segala hal yang ia sendiri senang bila orang lain melakukan hal itu kepadanya. Barangsiapa yang tidak mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri, maka persaudaraan (persahabatan)nya itu adalah munafik/semu. Dan bahaya persahabatan yang seperti itu akan kembali kepadanya di dunia dan di akhirat.
 
فَهَذَا أَدَبُكَ فِيْ حَقِّ الْعَوَامِّ الْمَجْهُوْلِيْنَ، وَفِيْ حَقِّ اْلأَصْدِقَاءِ الْمُؤَاخِيْنَ
Ini adalah adab-adab yang hendaknya engkau perhatikan saat bergaul dengan kaum awam yang tidak engkau kenal dan saat bergaul dengan “teman sejati” yang engkau anggap sebagai saudara.
 
Bersambung...
Share:

Sunday, June 23, 2019

Adab-adab Bergaul dengan Orang Lain (Bagian Keempat)

وَالنَّاسُ ثَلاَثَةٌ: أَحَدُهُمْ، مَثَلُهُ مَثَلُ الْغِذَاءِ، لاَ يُسْتَغْنَى عَنْهُ. وَاْلآخَرُ، مَثَلُهُ مَثَلُ الدَّوَاءِ، يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِيْ وَقْتٍ دُوْنَ وَقْتٍ. وَالثَّالِثُ، مَثَلُهُ مَثَلُ الدَّاءِ، لاَ يُحْتَاجُ إِلَيْهِ قَطُّ
Ada 3 macam bentuk perumpamaan manusia: (1) Manusia yang perumpamaannya seperti makanan pokok. Keberadaan mereka selalu dibutuhkan. (Mereka adalah para ulama dan orang-orang shalih). (2) Manusia yang perumpamaannya seperti obat. Keberadaannya ada kalanya dibutuhkan dan ada kalanya tidak. (3) Manusia yang perumpamaannya seperti penyakit. Keberadaannya sama sekali tidak dibutuhkan. 

وَلَكِنَّ الْعَبْدَ قَدْ يُبْتَلَى بِهِ، وَهُوَ الَّذِيْ لاَ أُنْسَ فِيْهِ وَلاَ نَفْعَ؛ فَتَجِبُ مُدَارَاتُهُ إِلَى الْخَلاَصِ مِنْهُ، وَفِيْ مُشَاهَدَتِهِ فَائِدَةٌ عَظِيْمَةٌ إِنْ وُفِّقْتَ لَهَا، وَهُوَ أَنْ تُشَاهِدَ مِنْ خَبَائِثِ أَحْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ مَا تَسْتَقْبِحَهُ فَتَجْتَنِبَهُ؛ فَالسَّعِيْدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ، وَالْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ
Namun demikian setiap hamba akan diuji oleh Allah dengan keberadaan manusia tipe ketiga ini, yakni orang yang apabila bergaul dengannya tidak akan memperoleh keramahan maupun manfaat darinya. Maka sudah semestinya engkau menjauh darinya agar selamat dari keburukan sifatnya. Namun memperhatikan manusia tipe ketiga ini mengandung manfaat yang besar apabila engkau mendapat limpahan taufik dari-Nya. Dengan memperhatikan keburukan sifat dan perilakunya, maka engkau mengetahui  hal-hal yang buruk darinya dan engkau pun bisa menghindarinya. Orang yang beruntung adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain. Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. 

وَقِيْلَ لِعِيْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ: مَنْ أَدَّبَكَ؟ فَقَالَ: مَا أَدَّبَنِيْ أَحَدٌ، وَلَكِنْ رَأَيْتُ جَهْلَ الْجَاهِلِ فَاجْتَنَبْتُهُ. وَلَقَدْ صَدَقَ - عَلَى نَبِيِّنَا وَعَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ - فَلَوِ اجْتَنَبَ النَّاسُ مَا يَكْرَهُوْنَهُ مِنْ غَيْرِهِمْ لَكَمُلَتْ آدَابُهُمْ وَاسْتَغْنَوْا عَنِ الْمُؤَدِّبِيْنَ
Ditanyakan kepada Nabi Isa AS: “Siapakah yang mengajarkan padamu tentang adab?” Beliau menjawab: “Tidak seorang pun yang mengajariku tentang adab, namun aku melihat perilaku bodoh dari orang yang bodoh, maka aku menjauhinya. Sungguh benar apa yang beliau ucapkan itu –sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Nabi kita, Muhammad SAW—bahwa sekiranya manusia menjauhi segala hal yang dibencinya dari orang lain, niscaya sempurnalah adab-adab mereka dan tidak diperlukan lagi adanya para pembimbing yang mengajarkan tentang adab.

Bersambung...
Share:

Tuesday, June 18, 2019

Adab-adab Bergaul dengan Orang Lain (Bagian Ketiga)

الرَّابِعَةُ: لاَتَصْحَبْ حَرِيْصًا عَلَى الدُّنْيَا: فَصُحْبَةُ الْحَرِيْصِ عَلَى الدُّنْيَا سُمٌّ قَاتِلٌ؛ لأَنَّ الطِّبَاعَ مَجْبُوْلَةٌ عَلَى التَّشَبُّهِ وَاْلاِقْتِدَاءِ، بَلِ الطَّبْعُ يُسْرَقُ مِنَ الطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لاَ يَدْرِيْ، فَمُجَالَسَةُ الْحَرِيْصِ تَزِيْدُ فِيْ حِرْصِكَ، وَمُجَالَسَةُ الزَّاهِدِيْنَ تَزِيْدُ فِيْ زُهْدِكَ
4. Hendaklah engkau tidak bersahabat dengan orang yang rakus/tamak terhadap dunia, karena bersahabat dengan orang yang rakus/tamak terhadap dunia adalah racun yang mematikan. Hal itu dikarenakan tabiat tumbuh dari kecenderungan manusia yang suka meniru dan mengikuti, bahkan tabiat itu dapat saling menjangkiti tanpa disadari. Oleh karena itu, apabila engkau bergaul dengan orang yang rakus/tamak terhadap dunia, maka hal itu akan dapat menambah kerakusan/ketamakanmu terhadap dunia. Sedangkan bila engkau bergaul dengan orang-orang yang zuhud, maka hal itu akan menambah sikap zuhudmu.

الْخَامِسَةُ: الصِّدْقُ: فَلاَ تَصْحَبْ كَذَّابًا، فَإِنَّكَ مِنْهُ عَلَى غُرُوْرٍ، فَإِنَّهُ مِثْلُ السَّرَابِ، يُقَرِّبُ مِنْكَ الْبَعِيْدَ، وَيُبْعِدُ مِنْكَ الْقَرِيْبَ
5. Kejujurannya. Janganlah bersahabat dengan seorang pendusta, karena engkau akan tertipu olehnya. Sesungguhnya keadaannya seperti fatamorgana, yang mendekatkan padamu sesuatu yang jauh, dan menjauhkan darimu sesuatu yang dekat.

وَلَعَلَّكَ تَعْدَمُ اجْتِمَاعَ هَذِهِ الْخِصَالِ فِيْ سُكَّانِ الْمَدَارِسِ وَالْمَسَاجِدِ، فَعَلَيْكَ بِأَحَدِ أَمْرَيْنِ: إِمَّا الْعُزْلَةُ وَاْلانْفِرَادُ؛ فَفِيْهَا سَلاَمَتُكَ. وَإِمَّا أَنْ تَكُوْنَ مُخَالَطَتُكَ مَعَ شُرَكَائِكَ بِقَدْرِ خِصَالِهِمْ
Apabila engkau tidak menemukan semua sifat dan karakter tersebut pada diri orang-orang yang memenuhi sekolah-sekolah dan masjid-masjid, maka seyogyanya engkau memilih satu di antara dua hal berikut: pertama, mengasingkan diri (dari pergaulan) dan menyendiri (agar dapat beribadah kepada Allah). Dengan cara ini engkau akan menemukan keselamatan. Kedua, bergaul dengan mereka sekedarnya saja, sesuai dengan keadaan sifat dan karakter masing-masing mereka.

بِأَنْ تَعْلَمَ أَنَّ اْلاِخْوَةَ ثَلاَثَة: أَخٌ ِلآخِرَتِكَ فَلاَ تُرَاعِ فِيْهِ إِلاَّ الدِّيْنَ، وَأَخٌ لِدُنْيَاكَ فَلاَ تُرَاعِ فِيْهِ إِلاَّ الْخُلُقَ الْحَسَنَ، وَأَخٌ لِتَأْنَسَ بِهِ فَلاَ تُرَاعِ فِيْهِ إِلاَّ السَّلاَمَةَ مِنْ شَرِّهِ وَفِتْنَتِهِ وَخُبْثِهِ
Disertai dengan pemahaman bahwa sahabat itu ada tiga macam: (1) Sahabat dalam urusan akhiratmu. Dalam hal ini tidak ada yang lebih penting untuk dipertimbangkan selain agamanya. (2) Sahabat dalam urusan duniamu. Dalam hal ini tidak ada yang lebih penting untuk dipertimbangkan selain kebaikan/kemuliaan akhlaknya. (3) Sahabat dalam bersantai. Dalam hal ini tidak ada yang lebih penting untuk dipertimbangkan selain keselamatan dirimu dari keburukan, fitnah, dan kejahatannya.

Bersambung...
Share:

Waktu Saat Ini


Syubbanul Wathon

Tahlilan

Tamu Online