Kajian Seputar Aqidah dan Amaliah Aswaja

Bid'ah Sahabat Nabi dalam Shahih al-Bukhari

Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah terpuji atau populer dengan sebutan bid’ah hasanah adalah setiap perbuatan baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun Nabi Muhammad SAW ...

Mengenal Sosok 'Mubham' dalam Hadits

Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi. Para sahabat yang mengetahuinya emosi...

Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru

Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya....

Sifat Shalat Nabi Ala ASWAJA

Sangat disayangkan bila dewasa ini muncul sikap-sikap yang kurang bijaksana dari kelompok tertentu yang sibuk mencari-cari kesalahan tata cara shalat kelompok lain dengan mengatakan landasannya lemah, bahkan diiringi dengan vonis bid’ah...

Mayit Bisa Menerima Manfaat dari Amal Orang yang Masih Hidup (Bagian Pertama)

Selain menerima manfaat amal kebajikan yang pernah dikerjakannya semasa hidup, orang yang sudah meninggal dunia juga bisa mendapatkan manfaat dari amaliah saudaranya sesama Muslim,...

Showing posts with label Doa. Show all posts
Showing posts with label Doa. Show all posts

Tuesday, December 18, 2018

Inilah Lafal Dzikir Utama di Waktu Subuh

Imam Nawawi dalam Kitab Al-Azkar menyebutkan bahwa banyak lafal zikir yang baik dibaca di waktu Subuh berasal dari Rasulullah SAW. Mereka yang dapat mengamalkan semuanya terbilang orang beruntung yang mendapatkan nikmat dan anugerah Allah SWT.

Adapun mereka yang tidak sanggup mengamalkan semuanya dapat menyingkat amalan tersebut meski hanya satu lafal zikir.

Imam Nawawi menyebutkan sejumlah ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar anjuran zikir di waktu Subuh, yaitu Surat Thaha ayat 130, Surat Ghafir ayat 55, Surat An-Nisa ayat 148, Al-An‘am ayat 52, An-Nur ayat 36, dan Surat As-Shad ayat 18.

Ada baiknya kami kutip dua ayat darinya sebagai berikut:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
“Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari. (QS. Thaha: 130)

Sedangkan Surat Ghafir ayat 55 berbunyi sebagai berikut:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ
“Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada pagi dan petang. (QS. Ghafir ayat 55)

Semua ayat ini menunjukkan anjuran agar manusia berzikir memuji Allah pada waktu Subuh atau pagi hari dan tentu saja sore hari.

Imam An-Nawawi menyebut Sayyidul Istighfar sebagai lafal yang baik dan utama dibaca saat Subuh atau pagi hari dan petang. Bunyi lafal Sayyidul Istighfar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Bukhari adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
[Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu. A‘ûdzu bika min syarri mâ shana‘tu. Abû’u laka bini‘matika ‘alayya. Wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta].

“Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.”

Perihal keutamaan Sayyidul Istighfar yang dibaca waktu pagi atau sore hari disebutkan di ujung hadits riwayat Imam Bukhari. Mereka yang mengamalkan Sayyidul Istighfar kemudian wafat beberapa jam kemudian mendapat garansi surga dari Allah SWT.

إذا قال ذلك حين يمسي فمات من ليلته دخل الجنة، أو كان من أهل الجنة، وإذا قال ذلك حين يصبح فمات من يومه...مثله
“Dalam Shahih Bukhari terdapat riwayat dari Syaddad bin Aus RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang membacanya [Sayyidul Istighfar] ketika sore, lalu ia wafat pada malamnya, maka ia masuk surga atau ia tergolong penghuni surga. Siapa yang membacanya ketika pagi, lalu ia wafat pada siangnya, maka nasibnya sama seperti orang yang mengamalkannya pada petang hari.’” (Lihat: Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 63)

Adapun zikir lainnya adalah lafal tasbih sebagaimana dipahami secara harfiah dari ayat-ayat tersebut. Riwayat hadits pada Shahih Muslim menyebut lafal tasbih sebagai berikut:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
[Subhānallāhi wa bi hamdih].
“Mahasuci Allah dengan segala puji bagi-Nya.”

Adapun riwayat hadits pada Sunan Abu Dawud menyebut lafal tasbih sebagai berikut

سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
[Subhānallāhil ‘azhīmi wa bi hamdih].
“Mahasuci Allah yang maha agung dengan segala puji bagi-Nya.”

Lafal tasbih yang dianjurkan untuk dibaca sebanyak 100 kali ini memiliki keutamaan luar biasa. Siapa saja yang mengamalkannya akan membawa amal terbaik pada hari kiamat kelak sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim berikut ini:

وروينا في صحيح مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قال حين يصبح وحين يمسي سبحان الله وبحمده مائة مرة لم يأت أحد يوم القيامة بأفضل مما جاء به إلا أحد قال مثل ما قال أو زاد عليه
“Diriwayatkan kepada kami di Shahih Muslim dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang membaca ketika pagi dan ketika sore ‘Subhānallāhi wa bi hamdih,’ sebanyak 100 kali, niscaya pada hari kiamat tidak ada orang yang lebih baik membawa amal daripadanya selain orang yang mengamalkan seperti apa yang diamalkan olehnya atau bahkan melebihi amalnya. (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 63).

Imam An-Nawawi, sebagaimana di awal disebutkan, mengatakan bahwa lafal zikir di waktu Subuh atau pagi hari begitu banyak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Masih banyak lagi lafal zikir di waktu Subuh yang belum tertera di sini. Semua lafal itu mengandung keutamaan luar biasa sebaiknya tidak dilewatkan meski hanya satu jenis zikir.

Wallahu a‘lam
Share:

Friday, December 14, 2018

Empat Anjuran Syekh Abdul Qadir al-Jilani Saat Berdoa

Doa merupakan media komunikasi antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Melalui doa seluruh keluh kesah dan harapan manusia diutarakan. Doa sekaligus menunjukan ketundukkan dan kepatuhan seorang hamba terhadap Sang Maha Kuasa. Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan”. (QS. Al-Ghafir: 60)

Pada hakikatnya berdoa bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Akan tetapi, alangkah baiknya doa dilakukan pada waktu-waktu yang disunnahkan untuk berdoa.

Salah satunya adalah berdoa setelah mengerjakan shalat lima waktu dan shalat sunnah. Karena doa termasuk bagian dari ibadah, maka ada beberapa hal yang disunnahkan pada saat berdoa.

Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Ghunyatul Thalibin menjelaskan:
 
أن يمد يديه ويحمد الله تعالى ويصلى على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يسأله الله حاجته ولا ينظر إلى السماء في حاله دعائه، وإذا فرغ يديه مسح يديه على وجهه، لما روى عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: سلوا الله ببطون أكفكم
“Dianjurkan pada saat berdoa membentangkan kedua tangan, mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian baru setelah itu mengutarakan permintaan dan permohonan. Jangan menghadap langit pada saat berdoa. Ketika selesai berdoa usaplah kedua tangan ke wajah. Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah berkata, ‘Mintalah kepada Allah dengan batin telapak tangan.’”

Dari penjelasan Syekh Abdul Qadir di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat berdoa:

Pertama, membentangkan kedua telepak tangan pada saat berdoa, seperti orang yang sedang memohon dan meminta.

Kedua, awali doa dengan pujian terhadap Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pujian itu sebagai ungkapan bahwa manusia sesungguhnya lemah dan tidak memiliki daya dan kuasa di hadapan Allah SWT.

Ketiga, setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad baru sampaikan permintaan dan permohonan kepada Allah SWT, sembari menunduk dan jangan menghadap ke langit.

Keempat, selesai berdoa usaplah wajah dengan dua telapak tangan.

Pada saat membentangkan kedua telapak tangan, hendaklah batin telapak tangan menghadap ke atas, seperti halnya orang meminta. Dalam hadits disebutkan, “Mintalah dengan batin telapak tangan”. (HR Abu Dawud) Maksudnya adalah berdoa dengan batin telapak tangan ke atas sebagai simbol yang berharap dan memohon. Tapi kalau menolak simbolnya adalah punggung telapak tangan yang menghadap ke atas.

Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan, kalau doa yang berisi harapan dan permohonan, batin telapak tangan menghadap ke atas. Tapi kalau isi doa mengandung penolakan terhadap bencana dan sesuatu yang buruk lainnya, dianjurkan membalik telapak tangan: punggung tangan menghadap ke atas. 

Wallahu a’lam.
 
Sumber: di sini
Share:

Friday, October 19, 2018

Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru

Dalam kegiatan transfer ilmu, dua hal yang tak terpisah yaitu murid dan guru. Dalam Islam, menimba ilmu tidak hanya berpatokan pada kekuatan intelektual saja. Ada beberapa unsur di luar kecerdasan yang menjadikan ilmu bermanfaat, salah satunya adalah berkah dari guru.

Maka tak dapat dielakan bahwa Islam sangat menganjurkan bagi para penuntut ilmu untuk memberi penghormatan yang luar biasa kepada seorang guru, sebab di sanalah terdapat keberkahan ilmu.

Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya. (Imam an-Nawawi, at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, Dar el-Minhaj, halaman 64)

Selain itu, seorang murid mesti berprasangka baik kepada gurunya, jangan sampai tersirat buruk sangka yang menyebabkan hilangnya keberkahan ilmu. Berbeda pendapat boleh, namun rasa hormat jangan sampai hilang dari seorang murid. 

Imam an-Nawawi, dalam kitabnya at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, menyebutkan doa agar kita terhindar dari mengetahui aib seorang guru.

اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي
[ALLÂHUMMA-STUR ‘AIBA MU‘ALLIMÎ ‘ANNÎ WALÂ TADZHAB BARAKATA ‘ILMIHI MINNÎ]
“Ya Allah, tutupilah aib guruku dariku, dan jangan Engkau hilangkan berkah ilmunya dariku.”

Dengan doa ini, semoga kita dapat meraih ilmu yang bermanfaat dengan tetap menjaga prasangka yang baik kepada guru-guru kita semua. Amiin..

Sumber: Di sini
Share:

Friday, September 7, 2018

Doa Menyambut Pulangnya Jamaah Haji

Saat jamaah haji kembali ke tanah air, kita dianjurkan menyambut kepulangan mereka dengan penuh gembira. Kita juga dianjurkan mendoakan jamaah haji sepulang mereka menunaikan ibadah di tanah suci.

يستحب لمن يسلم على القادم من الحج أن يقول قبل الله حجك، وغفر ذنبك، وأخلف نفقتك
“Orang yang menyalami jamaah haji sepulang manasik dianjurkan mendoakannya, ‘Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka,’” (Lihat: An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 247).

Kita menemukan dua lafal doa dalam menyambut jamaah pulang haji. Berikut ini merupakan doa yang pernah dibaca Rasulullah Saw ketika mendoakan seorang jejaka sebelum berangkat dan sepulang dari ibadah haji.
Berikut ini merupakan doa menyambut jamaah haji pulang ke tanah air.

قَبَّلَ اللهُ حَجَّكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ
Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka.
“Semoga Allah menerima ibadah hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti pengeluaranmu.”

Doa ini disebutkan secara lengkap oleh Imam An-Nawawi di Kitab Al-Azkar-nya sebagai berikut:

روينا في كتاب ابن السني عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: جاء غلام إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إني أريد الحج، فمشى معه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا غلام، زودك الله التقوى، ووجهك في الخير، وكفاك الهم"، فلما رجع الغلام سلم على النبي صلى الله عليه وسلم فقال "يا غلام قبل الله حجك، وغفر ذنبك، وأخلف نفقتك"
“Diriwayatkan kepada kami di Kitab Ibnu Sunni dari Ibnu Umar ra, bahwa suatu hari seorang jejaka menemui Rasulullah, ‘Aku ingin berhaji wahai Rasul.’ Ia kemudian berjalan bersama Rasulullah. Rasul mendoakannya, ‘Zawwadakallâhut taqwa, wa wajjahaka fil khair, wa kafâkal hamma.’ Sepulang dari haji, ia menemui Rasulullah. Rasul mendoakan, ‘Wahai pemuda, Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka.’”

Sementara doa penyambutan jamaah sepulang dari haji adalah doa berikut ini.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الحَاجُّ
Allâhummaghfir lil hâjj, wa li man istaghfara lahul hâjj.
“Ya Allah, ampunilah dosa jamaah haji ini dan dosa orang yang dimintakan ampun oleh jamaah haji ini.”

Doa ini dikutip dari hadits riwayat Abu Hurairah ra. Riwayat ini juga disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar yang dikutip dari Sunan Al-Baihaqi. Menurut Imam Al-Hakim, hadits ini shahih berdasarkan syarat hadits Muslim.
Share:

Monday, August 20, 2018

Ijazah Dzikir Hari Arafah dari Al-Habib Salim Asy-Syathiri

Al-Habib Salim Asy-Syathiri berkata:

Pada hari Arafah hendaklah engkau membaca surat Al-Ikhlas 1000 kali, Ayat Kursi 360 kali, dan bershalawat kepada Nabi SAW sebanyak 1000 kali dengan shalawat Ibrahimiyyah.

Imam Baihaqi meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: "Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang berdiam diri pada sore hari Arafah, lalu ia membaca Ayat Kursi 360 kali, surat Al-Ikhlas 1000 kali dan shalawat Ibrahimiyyah 1000 kali, maka Allah akan membanggakannya di depan malaikat-Nya dan berfirman: "Saksikanlah wahai para malaikat! Hamba-Ku bertasbih dan mengagungkan-Ku, maka Aku ampuni dosa-dosanya dan jika ia meminta izin untuk memberi syafaat kepada orang lain, maka Aku akan mengizinkannya."

Maka hendaklah kalian melakukannya, jangan melalaikannya kecuali dengan perbuatan ibadah dan ketaatan, baik berupa perkataan ataupun perbuatan.

Hari Arafah adalah hari paling utama, karenanya Nabi SAW bersabda: "Hari paling utama adalah hari Arafah dan ucapan paling baik yang aku dan Nabi-nabi sebelumku ucapkan pada hari Arafah adalah:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍِ قَدِيْر

Ini juga hendaknya dibaca 1000 kali.

Maka dzikir hari Arafah ada empat :

1. Ayat Kursi 360 kali.
2. Kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍِ قَدِيْر 1000 kali.
3. Surat Al-Ikhlas 1000 kali.
4. Shalawat Ibrahimiyyah 1000 kali.

Begitulah yang paling baik. Jika tidak mampu, maka baca setengahnya, dan paling sedikit 100 kali pada tiap-tiap dzikir tersebut.

Share:

Friday, August 3, 2018

Wasiat Wirid Rasulullah kepada Mu'adz bin Jabal, Dibaca Setelah Shalat

Biasanya, seseorang akan memberikan hadiah spesial kepada orang yang dicintainya. Begitu juga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang sangat mencintai orang-orang shalih, terlebih mereka yang mempunyai andil besar dalam berdakwah.

Sahabat Muadz misalnya. Pemuda ganteng tanpa jenggot yang sudah masuk Islam di usianya ke-18 tahun ini merupakan satu dari empat orang sahabat Anshar yang mengumpulkan tulisan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersama Ubadah, Ubay, Abu Ayub, dan Abu ad-Darda'. Dalam satu riwayat dikatakan, Rasulullah menyuruh para sahabat untuk belajar Al-Qur’an kepada empat sahabat. Satu di antaranya adalah Muadz ibn Jabal (Lihat: Shahîh Bukhâri, hadits nomor 4615). 

Terdapat segudang prestasi yang diraih oleh Muadz selama hidupnya. Ia termasuk orang yang mengikuti Bai'atul Aqabah II (perjanjian bersama Rasulullah, 622 M), penghafal Al-Qur’an, dan satu dari enam orang yang sudah mempunyai wewenang berfatwa pada zaman Nabi selain Umar, Utsman, Ali dari sahabat Muhajirin, dan Ubay ibn Ka'b serta Zaid dari sahabat Anshar. 

Cinta Rasulullah kepada Sahabat Muadz di antaranya diakui oleh Muadz sendiri dalam hadits berikut: 

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ: يَا مُعَاذُ ! وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ : أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Dari Muadz bin Jabal radliyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengambil tangannya, lalu bersabda, Hai Muadz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu.’ Setelah mengatakan demikian, Rasulullah bersabda kembali, ‘Aku berpesan kepadamu, wahai Muadz: Jangan sampai kamu meninggalkan setiap selesai melaksanakan shalat supaya membaca:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allâhumma aínnî 'alâ dzikrika wa syukrika wa husni 'ibâdatik
'Ya Allah, semoga Engkau memberi pertolongan kepada kami untuk bisa selalu ingat (dzikir) kepada-Mu, syukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu’." (Al-Hâfidz Abu Dâwud bin al-Asy'ats al-Azdiy as-Sijistâniy, Sunan Abî Dâwud, Dârur Risâlah al-Alamiyyah, Beirut, 2009, juz 2, halaman 631)

Pada hadits di atas, Muadz kemudian mewasiatkan kepada as-Sunâbihiy, as-Sunâbihiy lalu meriwayatkannya kepada Abdurrahman. 

Cendera mata Nabi tidak berupa harta benda yang akan mudah lenyap. Tapi yang diberikan adalah doa spesial. Dengan begitu, semua umat Islam bisa ikut mengamalkan cendera mata tersebut. Berbeda jika berupa pakaian. Hanya bisa dipakai Muadz sendiri. Inilah pemberian yang manfaatnya luas. 

Hingga sekarang, mata rantai sanad hadits yang terkenal dengan sebutan hadits musalsal bil mahabbah tersebut masih diabadikan sebagian kalangan. Biasanya hadits tersebut diberikan khusus kepada orang yang dicintai semisal guru kepada murid yang telah menuntaskan semua bidang keilmuan atau karena alasan-alasan lain.
 
Sumber: NU Online 
Share:

Friday, July 20, 2018

Doa-doa Nabi Ibrahim di Makkah

Nabi Ibrahim melakukan serangkaian perjalanan bolak-balik antara Palestina dan Makkah sebanyak empat kali. Pertama, ketika membawa isterinya, Hajar, dan anaknya, Ismail, yang masih bayi. Di waktu inilah air Zamzam keluar.

Kedua, perjalanan ketika Ismail beranjak dewasa. Keduanya kemudian membangun membangun Ka'bah. Ketiga, ketika Ismail sudah beristeri pertama dengan perempuan dari suku Jurhum. Keempat, ketika Ismail beristeri baru setelah menceraikan isteri pertama karena ketidakcocokan dan atas desakan ayahnya karena ketidakcocokan itu. 

Ketika Nabi Ibrahim pertama kali datang ke satu lembah yang tandus yang masih belum ada penduduk, Ismail masih kecil. Nabi Ibrahim berdoa dengan dua permintaan, pertama, agar  kawasan di lembah itu pada satu saat nanti menjadi satu kota yang aman. (lihat redaksi Al-Qur'an: baladan tanpa al atau lam ta'rif) 

Permintaan kedua, agar penduduknya baik muslim maupun kafir mendapat limpahan rezeki. (lihat Al-Baqarah: 126). 

Doa ini dikabulkan oleh Allah sehingga kawasan ini menjadi kota yang  ramai (lihat redaksi Al-Balad dengan al atau lam ta'rif) dengan pendatang baru yang penduduknya heterogen, di antara mereka banyak  orang-orang musyrik. 

Ketika itu anaknya  Ismail sudah beranjak dewasa,  pada saat itulah Nabi Ibrahim berdoa lagi kepada Allah dengan enam permintaan (Ibrahim : 35). 

Pertama, agar kota Makkah menjadi aman dan tenteram. Kedua, keluarganya dijauhkan dari kemusyrikan. Ketiga, mereka selalu melaksanakan shalat. Keempat, hati manusia cenderung untuk datang ke Makkah. Kelima, penduduknya diberi rezeki berupa buah-buahan. Keenam, dosa-dosanya, dosa kedua orang tuanya dan dosa senua kaum mukmin diampuni. 

Dari doa yang dipanjatkan ini, kelihatan sosok Nabi Ibrahim sebagai seorang hamba Allah yang sangat taat yang rela membawa istri dan anaknya ditempatkan di satu kawasan yang masih baru sama sekali. 

Kering, tandus dan tak ada pepohonan. semua karena perintah Allah. Sosok ayah dan pemimpin yang  sangat peduli kepada keluarganya dan masyarakatnya baik dalam soal keyakinan,  kesejahteraan hidup atau keamanan, ketenteraman jiwa dan raga. 

Tiga pokok unsur kehidupan ini ( keimanan, keamanan dan kesejahteraan lahir) ini jika  bisa diraih oleh seseorang, itulah satu kebahagiaan yang diidam-idamkan oleh setiap orang. 

Atas ketaatan, kepatuhan dan ikhlasnya dalam berdoa, semua doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah.
Share:

Waktu Saat Ini


Syubbanul Wathon

Tahlilan

Tamu Online