Bid'ah Sahabat Nabi dalam Shahih al-Bukhari
Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah terpuji atau populer dengan sebutan bid’ah hasanah adalah setiap perbuatan baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun Nabi Muhammad SAW ...
Mengenal Sosok 'Mubham' dalam Hadits
Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi. Para sahabat yang mengetahuinya emosi...
Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru
Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya....
Sifat Shalat Nabi Ala ASWAJA
Sangat disayangkan bila dewasa ini muncul sikap-sikap yang kurang bijaksana dari kelompok tertentu yang sibuk mencari-cari kesalahan tata cara shalat kelompok lain dengan mengatakan landasannya lemah, bahkan diiringi dengan vonis bid’ah...
Mayit Bisa Menerima Manfaat dari Amal Orang yang Masih Hidup (Bagian Pertama)
Selain menerima manfaat amal kebajikan yang pernah dikerjakannya semasa hidup, orang yang sudah meninggal dunia juga bisa mendapatkan manfaat dari amaliah saudaranya sesama Muslim,...
Thursday, June 13, 2019
Hukum Menggabungkan Niat Puasa Syawal sekaligus Ayyamul Bidh
Sunday, May 5, 2019
Berdzikir dengan Hitungan Melebihi Ajaran Rasulullah
Bahkan Allah menetapkan sedikit berdzikir kepada-Nya sebagai ciri orang munafik dan mencelanya. Allah Ta'ala berfirman:
Rasulullah Saw bersabda, "Orang yang menyendiri menjadi pemenang". Para sahabat bertanya, "Siapakah orang yang menyendiri itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah." (HR Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Ibn Hibban)
"Basahilah lisanmu dengan berdzikir kepada Allah." (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibn Hibban, dan Hakim)
Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR sebanyak seratus kali setiap hari, maka ia mendapat pahala seperti memerdekakan sepuluh budak, ditulis seratus kebaikan, dan dihapus seratus keburukan." Hingga beliau bersabda, "Tidak ada seorang yang lebih utama karena apa yang ia bawa kecuali orang yang melakukan lebih banyak daripada itu." (HR Bukhari dan Muslim)
Semua ayat-ayat dan hadits-hadits di atas menguatkan bahwa tidak ada batasan berdzikir kepada Allah dan syariat membuka peluang berdzikir dan memperbanyak sesukanya. Seseorang yang berdzikir kepada Allah dengan jumlah banyak melebihi batas yang disebutkan dalam hadits lebih utama daripada orang yang membatasi diri dengan bilangan yang ada di dalamnya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Tidak ada seorang yang lebih utama karena apa yang ia bawa kecuali orang yang melakukan lebih banyak daripada itu." (HR Bukhari dan Muslim)
Dzikir kepada Allah adalah sunnah, dan memperbanyaknya termasuk memperbanyak perkara sunnah. Berdzikir dapat menghidupkan hati dan meninggalkannya menyebabkan hati menjadi mati.
Dari keterangan di atas, maka diperbolehkan bagi seseorang untuk berdzikir sesuai keinginannya tanpa dibatasi bilangan tertentu, baik ia mengatur dzikirnya sendiri atau diatur oleh seorang guru. Kami memohon kepada Allah agar menghidupkan hati kami dengan selalu berdzikir kepada-Nya. Amin.
Sumber: Al-Bayan Lima Yasyghal al-Adzhan karya Prof. Dr. Ali Jum'ah
Friday, April 19, 2019
Hukum Puasa Setelah Nishfu Sya'ban
Amalan di Malam Nishfu Sya'ban
1. Letak ke-mursal-an hadits tersebut karena Al-‘Ala’ bin Al-Harits adalah seorang Tabiin yang tidak pernah berjumpa dengan Aisyah. Prediksi Al-Baihaqi, Al-‘Ala’ memperoleh hadits tersebut dari gurunya, Makhul. Imam Ahmad menilai Al-‘Ala’ sebagai orang yang sahih haditsnya. Abu Hatim berkata: “Tidak ada murid Makhul yang lebih terpercaya dari pada Al-‘Ala’”. Ibnu Hajar menyebut Al-‘Ala’ sebagai orang yang jujur dan berilmu fikih, tetapi ia dituduh pengikut Qadariyah. (Mausu’ah Ruwat Al Hadits)

















