Kajian Seputar Aqidah dan Amaliah Aswaja

Bid'ah Sahabat Nabi dalam Shahih al-Bukhari

Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah terpuji atau populer dengan sebutan bid’ah hasanah adalah setiap perbuatan baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun Nabi Muhammad SAW ...

Mengenal Sosok 'Mubham' dalam Hadits

Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi. Para sahabat yang mengetahuinya emosi...

Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru

Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya....

Sifat Shalat Nabi Ala ASWAJA

Sangat disayangkan bila dewasa ini muncul sikap-sikap yang kurang bijaksana dari kelompok tertentu yang sibuk mencari-cari kesalahan tata cara shalat kelompok lain dengan mengatakan landasannya lemah, bahkan diiringi dengan vonis bid’ah...

Mayit Bisa Menerima Manfaat dari Amal Orang yang Masih Hidup (Bagian Pertama)

Selain menerima manfaat amal kebajikan yang pernah dikerjakannya semasa hidup, orang yang sudah meninggal dunia juga bisa mendapatkan manfaat dari amaliah saudaranya sesama Muslim,...

Showing posts with label Dzikir. Show all posts
Showing posts with label Dzikir. Show all posts

Friday, July 19, 2019

Manfaat Dzikir (Bagian Ketiga)

Berdzikir Akan Membuat Diri Dekat kepada Allah
Sebuah Hadits Qudsi dari Abu Hurairah ra, Allah Swt berfirman, "Aku adalah sebagaimana persangkaan hamba kepada-Ku. Aku selalu bersamanya, jika dia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku akan mengingatnya dalam Dzat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam persangkaan-Nya, maka Aku akan mengingatnya dalam persangkaan yang lebih baik dari persangkaan-persangkaannya itu. Jika ia mendekati-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta. Jika ia mendekati-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa. Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (HR Bukhari)

Banyak orang yang ingin mencari Tuhan. Mereka menempuh jalan pengembaraan, perenungan, dan serangkaian upaya ritual. Mereka ingin dekat, sedekat-dekatnya dengan Tuhan. Namun sejatinya Tuhan bisa kita jumpai di mana pun. Allah Ta'ala sudah jelas mengisyaratkan bahwa Dia berada tidak jauh dalam diri kita. Dia sangat dekat dengan diri, bahkan sangat dekat, sebagaimana firman-Nya, "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" (QS. Qaf [50]: 16). Padahal, urat leher adalah salah satu organ yang berada di dalam tubuh.

Ini sudah dapat menjadi gambaran, betapa dekatnya Allah Ta'ala bagi kita. Hadits Qudsi di atas merupakan satu metode, cara efektif untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Allah Swt telah mengajarkan kepada kita untuk selalu ber-husnuzhan atau berprasangka baik. Apa yang terjadi dan kita alami adalah paket yang sudah diatur oleh-Nya. Kita harus menerima dengan lapang dan yakin bahwa itu adalah yang terbaik dari Allah untuk kita. Kita berprasangka baik, Allah akan memberikan kepada kita sesuai dengan apa yang kita sangkakan itu.

Pertama-tama, kita memang dianjurkan untuk mengingat-Nya di dalam jiwa kita. Hati dan akal adalah instrumen jiwa. Kita dituntun untuk selalu ingat Allah Ta'ala dengan hati dan akal kita. Dia pun akan mengingat kita dalam Dzat-Nya. Padahal Dzat Allah tidak bisa tersentuh apapun. Betapa dahsyatnya!

Dengan hati dan akal itu kita mengingat Allah Ta'ala, dengan hati dan akal itu pula kita mempersangkakan setiap peristiwa dengan persangkaan yang baik. Semua dikembalikan kepada-Nya, diyakini bahwa Allah telah mengaturnya dengan adil. Semua demi kebaikan kita, hanya kita saja yang belum tahu hikmah di dalamnya.

Inilah metode pendekatan diri kepada Allah sebagaimana dituntunkan Allah melalui Nabi Muhammad Saw. Kedekatan kita kepada-Nya tergantung keyakinan kita dalam mempersangkakan-Nya. Semakin baik dan semakin yakin kita berprasangka kepada Allah Ta'ala, maka semakin dekat pyla kita kepada-Nya. Allah Ta'ala hadir dalam diri melalui prasangka dan rasa hati. Dia akan membuka pintu lebar-lebar, menyambut kedatangan kita jauh lebih cepat daripada perjalanan atau lari kita menuju kepada-Nya.

Wallahu a'lam
Share:

Wednesday, July 17, 2019

Manfaat Dzikir (Bagian Kedua)

Hati Tenteram dengan Dzikir
"...dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. al-Ra'd [13]: 27-28)

Salah satu manfaat berdzikir adalah hati menjadi tenteram. Saya tidak akan memberikan komentar panjang lebar, namun cukup dirasakan. Manakala hati sedang gelisah, cobalah ambil air wudhu. Kemudian shalat hajat dua rakaat. Selanjutnya, duduklah dengan tenang sambil melantunkan bacaan-bacaan dzikir. Resapilah maknanya dan hilangkan beban yang memberatkan diri. Terus ucapkan lafal-lafal dzikir itu. Insyaallah hati akan lunak, lembut, tenang, hingga akhirnya ketenteraman akan menghampiri.

Lebih terasa lagi manfaat ini ketika kita sedang marah atau kalut. Saat menghadapi situasi semacam itu, cobalah diam sesaat. Hilangkan pandangan kita kepada dunia. Hilangkan semuanya, termasuk diri kita. Rasakan kekosongan, lepaskan beban duniawi. Dalam kekosongan semacam itu, sebutlah nama Tuhan dalam hati. Cukup dalam hati sambil mengatur nafas.

Dzikir yang kita baca dalam hati itu akan mengisi diri yang telah kita kosongkan. Kekalutan atau emosi akan reda karena terisi kelembutan yang diberikan Allah Ta'ala. Kita telah menghadirkan Dia, kita pula yang meraskaan kenikmatan bersama-Nya.

Wallahu a'lam
Share:

Sunday, July 14, 2019

Manfaat Dzikir (Bagian Pertama)

Saat kita belum pernah merasakan lezatnya berdzikir, maka dzikir akan menjadi suatu aktivitas yang sulit dan melelahkan. Namun bagi yang sudah pernah merasakan nikmat saat melakukannya, dzikir akan menjadi suatu kebutuhan. Dzikir menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup. Baginya, tak ada yang dapat melebihi kebahagiaan selain berdzikir.

Allah telah memerintahkan kita untuk berdzikir. Betapa pentingnya dzikir ini bagi manusia sampai-sampai ada ungkapan dari Ibn Arabi, seorang tokoh sufi, "Tingkatan tertinggi dalam ibadah adalah dzikir." Dzikir merupakan wahana paling praktis dan efektif untuk mengenal Tuhan.

Mari kita lihat ke diri kita, apakah perintah dzikir bagi kita merupakan suatu beban atau kebutuhan? Beruntunglah Anda dan saya, kalau kita menjadikan dzikir sebagai kebutuhan, sebagai makanan pokok ruhani. Manfaat dzikir akan datang dengan sendirinya. Tanpa kita harapkan pun, kita pasti dihampirinya. Apakah sajakah manfaat dzikir itu? 

Dzikir akan Menghidupkan Hati
Berdasarkan dalil agama, ternyata jauh sekali bedanya antara orang yang ingat kepada Allah dengan yang tidak. Nabi Saw bersabda, "Perumpamaan orang yang ingat kepada Tuhannya dan orang yang tidak ingat kepada Tuhannya, bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati." (HR Bukhari)

Orang yang sedang ingat kepada Allah Swt adalah orang yang hidup, karena dia sedang bersama Yang Maha Hidup. Hatinya hidup. Dia dapat memilah-milah dengan refleks mana yang patut dan mana yang tidak patut. Agama baginya bukan sekedar teori. Kitab suci baginya bukan sekedar bacaan, namun hati yang hidup dan selalu berkata benar.

Terkadang saya bingung, mungkin juga Anda. Banyak orang yang pandai dalam teori beragama. Mereka lebih suka berdebat untuk menentukan halal dan haram, padahal di sampingnya berjejer umat yang menjerit kelaparan namun mereka hanya diam. Banyak yang mengaku muslim sejati, mereka sibuk mencari alasan hukum untuk diri dan kelompoknya. Mereka mengumpulkan dalil-dalil pembenaran, terkadang sambil disertai ejekan dan merendahkan kelompok lainnya. Inikah perilaku beragama? Inikah perilaku muslim sejati? Apakah agama hanya menjadi milik mereka sendiri?

Di sini lain, tak sedikit orang yang minim pengetahuan agamanya namun memiliki hati yang tulus. Mereka kurang memahami hukum-hukum agama tertulis, namun hukum itu justru teraplikasi dalam aktivitas kesehariannya. Mereka suka menolong, hatinya peka terhadap penderitaan tetangga. Dia ramah dan sopan. Tanpa disadarinya bahwa dia telah mengamalkan ajaran agama.

Kita tak perlu berkecil hati karena masih awam dalam teori agama. Sambil meningkatkan pengetahui syar'i, mari kita bersama menghidupkan hati, menajamkan nurani. Inilah pengetahuan sejati, pengetahuan yang tidak dipelajari namun diberikan secara cuma-cuma kepada orang yang bertakwa. Takwa dalam pengertian takut dan tunduk kepada Allah Ta'ala. 

Saya pernah ditanya seseorang yang saya anggap sebagai guru. 
Beliau bertanya, "Apakah kamu sekarang sedang hidup?"
"Ya!" dengan mantap saya menjawab demikian. 
Beliau bertanya lagi, "Kalau kamu merasa sedang hidup, coba jawab, apa hidup ini?"

Sampai sekarang pun, saya masih mencari jawaban itu. Satu jawaban dangkal yang bisa saya berikan, "Hidup adalah keadaan hati yang berdzikir. Hati yang sedang ingat kepada Tuhan. Hati yang merasa lenyap dan diisi Kehidupan. Hati yang hidup selamanya, abadi."

Barangkali beliau, guru saya itu, akan tertawa geli mendengar jawaban ini. Jawaban yang bersifat teoritis dangkal, yang bukan dari hasil pengalaman.

Wallahu a'lam
Share:

Saturday, July 13, 2019

Dzikir Akal

Mengingat Allah dengan hati erat kaitannya dengan mengingat-Nya dengan akal. Akal akan menganalisa objek-objek yang terlihat dan terdengar. Lalu hati akan merasakan dan mengembalikannya pada sumber muasalnya, yakni Allah Ta'ala.

Simaklah firman Allah Ta'ala berikut, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi para ulul albab, (yakni) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi." (QS. Ali Imran [3]: 190-191).

Sehari-hari kita disibukkan dengan urusan duniawi. Kita sering lupa kepada Allah Swt, tak sempat lagi berpikir tentang kebesaran-Nya. Mungkin kita hanya ingat Allah ketika shalat. Bahkan saat shalat pun kita masih lupa kepada-Nya. Kita shalat namun hati dan pikiran kita melayang entah ke mana. Padahal shalat yang kita lakukan bertujuan untuk ingat kepada-Nya.

Tentu kita ingin menjadi bagian dari ulul albab, orang yang gemar mengamati dan menganalisa tentang kebesaran Tuhan. Ulul albab artinya pemilik lubb, yakni akal tertinggi. Lubb adalah alat (instrumen) penganalisa tertinggi yang hanya bisa dioperasikan oleh para nabi, para rasul, dan kekasih-kekasih Allah Ta'ala. Dalam khasanah tawasuf, lubb merupakan nama lain dari 'aql (akal) dan fikr (pikiran). Ketiganya sama namun berada dalam berbeda dalam fungsi. Dia adalah inti kesadaran yang akan mengantarkan manusia pada pengetahuan ketuhanan.

Mari melihat diri sendiri, sudah mampukah kita memaksimalkan fungsi lubb. Lihatlah fenomena semesta. Amati dengan seksama, matahari yang terbit dan tenggelam, silih bergantinya siang dan malam, serta adanya pria dan wanita. Apa yang ada dalam benak kita? Orang yang menggunakan 'aql (akal) akan mengomentarinya sebagai peristiwa alamiah dan menyelidikinya dari sisi ilmu Fisika, Geografi, dan ilmu-ilmu fisik lainnya. Yang menggunakan fikr (pikiran) akan mengatakan itu sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Ta'ala. Ya, hanya sebatas sebagai tanda kebesaran-Nya. Dia akan mengakui dan mengagungkan Tuhan sesaat, setelah itu akan disibukkan lagi dengan urusa duniawinya.

Tapi tidak bagi orang yang menggunakan lubb. Dia akan mengamati, menyelidiki, menganalisa, dan merenungkannya secara mendalam. Setiap fenomena alam akan membawanya pada dzikir, ingat kepada Allah. Ilmu-ilmu suci akan senantiasa mengalir, ilham akan selalu turun dalam relung kesadarannya yang bersih. Tidak ada sesuatu yang tidak berguna baginya. Semuanya adalah tanda, ayat yang membawanya pada kesadaran ketuhanan. Seperti firman-Nya, "(Mereka berkata), "Ya Tuhan kami, Engkau menciptakan ini tidak sia-sia, Maha Suci Engkau..." (QS. Ali Imran [3]: 191).

Para ulul albab akan selalu mengingat Allah Swt, baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring. Mereka senantiasa berdzikir ketika berdiri, yakni pada setiap aktivitas hidupnya. Dia dapat berdzikir dalam lingkungan kerjanya. Semua yang ada di hadapannya adalah ayat, tanda yang mengandung pesan dan hikmah. Tak terlewat dari pandangannya selain penampakan Tuhan. Bahkan dirinya pun serasa lenyap, Tuhan hadir sepenuhnya dalam rasa. Setiap idenya adalah ilham. Setiap tindakannya adalah amal.

Ulul albab juga senantiasa ingat Allah ketika duduk, yakni ketika sedang santai menikmati waktu luang. Tak ada waktu yang sia-sia baginya. Bahkan bercanda dan bermain pun akan menjadi ibadah baginya, karena Tuhan bersamanya.

Ulul albab juga senantiasa berdzikir kepada Allah Swt ketika berbaring, yakni pada saat istirahat dari aktivitas fisik. Desah nafas dan detak jantungnya teratur, mengumandangkan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Mimpinya adalah ilham yang mengandung isyarat. Insyaallah, inilah dzikir sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah Saw, yakni dzikir setiap saat dan di setiap tempat.

Wallahu a'lam. 

 
Share:

Thursday, July 11, 2019

Dzikir Hati

Dzikir lisan hampir tak ada manfaatnya jika tidak dirasakan dalam hati. Menyebut nama Allah dengan bibir hanyalah sarana, perantara untuk mengingat Allah dengan hati. 

Sebuah Hadits Qudsi dari Abu Hurairah ra, Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung berfirman, "Aku akan selalu menyertai hamba-Ku selama ia ingat kepada-Ku. Dan Aku jualah yang telah menggerakkan kedua bibirnya." (HR Ahmad)

Hadits di atas sekilas terdengar ringan, namun mengandung pesan sangat dalam. Allah Ta'ala akan selalu menyertai seorang hamba selama ia masih menggerakkan bibir menyebut nama-Nya dengan disertai ingat. Allah Swt lebih memberi penekanan untuk diingat, dan akan lebih baik jika disertai dzikir dengan bibir. Dzikir lisan akan hampa jika tidak diikuti dengan ingat kepada Tuhan. 

Dia akan menyertai kita pada saat kita ingat dan menyebut nama-Nya. Namun muncul pertanyaan, apakah kita dapat merasakan kehadiran-Nya? Apa tandanya bahwa Dia sedang bersama kita?

Sebenarnya tidak sulit jawabannya, namun sulit membuktikannya. Coba kita memperhatikan diri sendiri manakala menggerakkan bibir. Apakah kita merasa bahwa gerakan bibir itu dari kita sendiri, ataukah karena digerakkan Allah? Apa yang kita rasakan saat itu? Jika kita masih merasa bahwa kita sendiri yang berdzikir, berarti kita tidak lebih seperti robot. Kita seperti manusia kartun dalam play station, kita merasa hidup padahal tidak. Namun jika kita merasa bahwa saat itu yang berdzikir bukan kita, itu berarti kita telah merasakan hadirnya Tuhan. Kitalah pemain sekaligus penonton permainan play station itu.

Logikanya, Tuhan tidak mungkin hadir dalam jasad kita. Kalau itu terjadi, kita akan hancur binasa. Dia terlalu Agung. Jika Dia benar-benar hadir dalam hati kita, pasti binasa pula kedirian kita, "Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya" (QS. al-Qashash [28]: 88). Saat itu di mana kita? Masihkah kita mengaku sebagai pelaku? Masihkah kita merasa memiliki kedirian?

Bisa saya katakan, Tuhan akan hadir dan menyertai orang yang telah menghilangkan ego-nya. Orang tersebut akan merasakan kehadiran Tuhan manakala mengesampingkan peran dirinya dan mengembalikan semua itu kepada-Nya sebagai pelaku Tunggal, sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali" (QS. al-Baqarah [2]: 156).

Firman Allah, "Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang..." (QS. al-A'raf [7]: 205).

Firman Allah, "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah..." (QS. al-Hadid [57]: 16).

Kita bisa melihat, banyak orang yang melantunkan dzikir dengan keras. Mendendangkannya dalam bentuk nyanyian. Menampilkannya dalam bentuk pertunjukan-pertunjukan. Tak ada salahnya memang, namun apakah semua itu akan didengar Allah? Wallahu a'lam. Hanya Dia yang tahu.

Jika dzikir tersebut dibarengi dengan ingat kepada Allah dalam hati, niscaya Dia akan menyambutnya. Sekali lagi, dzikir lisan merupakan perantara atau pengantar menuju dzikir hati, yaitu ingat kepada Allah dengan hati. Namun bukan berarti bahwa setelah hati ingat, lalu lisan tidak perlu dibasahi dengan kalimat dzikir. Bagaimana pun juga, dzikir lisan sangat diperlukan. Jasmani memiliki hak mendapat makanan ruhani. Dan dzikir adalah salah satu makanan ruhaninya.

Dzikir hati dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Mengingat Allah tidak dibatasi waktu dan tempat. Bahkan dianjurkan untuk melakukannya setiap saat. Nabi Saw pun mencontohkan demikian.

Aisyah ra berkata, "Rasulullah Saw senantiasa ingat kepada Allah pada setiap saat yang dijalaninya." (HR Muslim)

Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana bisa ingat kepada Allah setiap saat? Saya dan Anda masih lemah dalam pengetahuan ini. Tapi lihatlah kepada para ulama kekasih Allah yang hati mereka selalu terkait dengan Allah Ta'ala. Mereka adalah pewaris Nabi Saw, hingga Allah memberi kemudahan untuk mengikuti jejak beliau. Jika mereka bisa seperti Nabi, apakah kita juga bisa? Kita hanya bisa ber-husnuzhan, berbaik sangka, insyaallah Dia akan memberi kemampuan pada kita. 

Wallahu a'lam
 

 
Share:

Tuesday, July 9, 2019

Dzikir Lisan

Dari Abdullah bin Bisr ra, Nabi Saw menjawab pertanyaan seorang sahabat, "Buatlah lisanmu senantiasa basah dengan menyebut nama Allah." (HR Tirmidzi)

Hadits ini mengandung anjuran, bahkan perintah untuk meneladani sabda Rasul Saw untuk berdzikir dengan lisan. Banyak ulama, kiai, dan ustadz yang melantunkan dzikir berjamaah. Mereka berkumpul dalam satu majelis dzikir menyebut nama Allah, membasahi lisan dan bibirnya dengan kalimat-kalimat mulia. Lihatlah hasilnya, hati mereka menjadi tenteram dan damai. Tingkah laku mereka menjadi santun, lembut dan penyabar.

Apa salahnya kita mencoba kebiasaan baik ini. Dalil dari Nabi Saw sudah jelas, dzikir dengan lisan ini dianjurkan. Tentu saja dengan lafal-lafal yang sudah dituntunkan, yakni dari Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw, karena hal itu lebih utama. Setiap firman Tuhan pasti benar dan mengandung hikmah sangat dalam. Demikian pula dengan sabda Nabi Saw.

Hanya saja, dzikir dengan lisan harus mengikuti aturan-aturan tertentu. Misalnya, kita tidak boleh berdzikir lisan di dalam kamar mandi, karena tempat tersebut dikategorikan sebagai tempat yang 'kotor'. Tidak etis rasanya menyebut nama Allah di tempat seperti itu. Dianjurkan berwudhu terlebih dahulu sebelum berdzikir lisan karena kita akan menyebut nama Dzat Yang Maha Suci, namun hal ini tidaklah wajib.

Wallahu a'lam
Share:

Monday, July 8, 2019

Dan Allah Pun Cemburu

Inilah penuturan yang disampaikan oleh Syaikh Hasan al-Bashri --seorang sufi kenamaan yang seangkatan dengan Rabi'ah al-Adawiyah-- kepada kita.

"Suatu hari," tutur al-Bashri, "ketika aku tengah duduk-duduk di atap rumahku, aku mendengar dari atap lain yang lebih tinggi, seorang istri tengah berkata kepada suaminya dengan nada marah dan cemburu."

"Sudah lima puluh tahun kita hidup bersama," ucap istri itu kepada suaminya, "Apakah kita dalam kondisi punya ataupun tidak punya, kepanasan ataupun kedinginan, selalu aku bersabar, dan tak pernah menuntut lebih dari yang ada. Aku tak pernah mengeluh kepada siapapun mengenai dirimu."

Sang suami diam saja, wajahnya tertunduk, ia amat menyadari kesalahannya.

"Satu hal yang tak bisa aku maafkan dari dirimu," ucap sang istri, "yakni, engkau lebih mencintai orang lain ketimbang diriku."

"Mendengar kata-kata terakhir itu," ucap al-Bashri, "aku terjengah. Kemudian aku segera turun untuk mengambil kitab suci Al-Qur'an. Ya, aku pernah mendapati ungkapan seperti itu: Kami akan memaafkan semua dosa-dosamu. Tetapi jika di dalam pikiranmu ada yang lain yang lebih engkau cenderungi dan bahkan engkau pertuhankan, maka Kami takkan pernah memaafkanmu. Aduh, betapa Allah cemburu."

***

Bahwa Allah Maha Pencemburu, hal ini dapat kita simak juga dari Hadits Qudsi berikut ini.

"Wahai anak Adam!" demikian Allah berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Ma'qil bin Yasar ra, "habiskanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku. Aku akan penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan memenuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Hai anak Adam! Janganlah engkau menjauhkan diri dari-Ku, agar Aku tidak mengisi hatimu dengan rasa kemiskinan dan mengisi kedua tanganmu dengan kesibukan serta kerepotan." (HR Hakim)

Karena cemburu-Nya, maka Allah pun melarang kepada dunia agar tidak menggoda hamba-hamba-Nya yang benar-benar mencintai-Nya. Bahkan sebaliknya, Allah Swt memerintahkan agar dunia berkhitmat kepada hamba-Nya itu. Dalam hal ini, ada dua Hadits Qudsi yang sangat mempesona dan amat terlihat, betapa cemburu Tuhan kepada hamba yang dicintai-Nya.

"Wahai dunia! Berkhitmatlah kepada orang yang telah berkhitmat kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang berkhitmat kepadamu." (HR Qudha'i)

Demikian juga dalam Hadits Qudsi yang lain, diriwayatkan bahwa Allah Swt berfirman:

"Wahai dunia! Lewatilah hamba-hamba kekasih-Ku dan janganlah bersikap manis terhadap mereka, agar mereka tidak tergoda olehmu." (HR Qudha'i)

Wallahu a'lam

 
Share:

Perintah Dzikir

Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi Saw berikut rasanya sudah cukup menjadi dalil wajibnya kita berdzikir kepada Allah Ta'ala.

Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang... (QS. al-A'raf [7]: 205)

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah... (QS. al-Hadid [57]: 16)

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. al-Ra'd [13]: 28)

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. al-Baqarah [2]: 152)

...berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu. (QS. al-Baqarah [2]: 198)

...maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. (QS. al-Baqarah [2]: 200)

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari. (QS. Ali Imran [3]: 41)

Maka setelah kamu menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. (QS. al-Nisa [4]: 103)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguhhatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. al-Anfal [8]: 45)

Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa... (QS. al-Kahfi [18]: 24)

Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dn disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah... (QS. al-Nur [24]: 36-37)

Dari Abdullah bin Bisr ra, dia berkata bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw, "Aturan-aturan Islam yang kami terima banyak sekali. Aku mohon kepadamu, wahai Rasul,agar mau memberikan padaku sesuatu yang dapat aku jadikan sebagai pegangan." Lalu Nabi Saw menjawab, "Buatlah lisanmu senantiasa basah dengan menyebut nama Allah." (HR Tirmidzi)
Share:

Friday, July 5, 2019

Arti dan Makna Dzikir

Istilah dzikir memiliki banyak pengertian. Dalam tulisan ini rasanya tidak terlalu penting memaparkan berbagai pendapat yang berbeda seputar pengertian dzikir. Cukuplah pengertian dzikir itu diambil dari satu makna saja, yakni dari sisi bahasa asalnya.

Kata dzikir berarti 'menyebut' atau 'mengingat'. Dzikrullah berarti menyebut nama Allah atau mengingat Allah. Keduanya --menyebut nama Allah dan mengingat Allah-- saling terkait satu sama lain.

Anda tentu pernah mengikuti dzikir berjamaah, yakni berdzikir secara bersama-sama dengan banyak orang. Saat itu Anda sedang menyebut nama Allah. Apakah saat itu juga Anda mengingat Allah? Tentunya Anda sendiri yang paling tahu. Padahal bagi Allah, perbuatan batin itu lebih dihargai daripada perbuatan lahir.

Saya tegaskan lagi, kedua makna dzikir ini --menyebut nama Allah dan mengingat Allah-- adalah satu rangkaian tak terpisahkan. Menyebut nama-Nya dengan bibir berulang-ulang, akan mengantarkan pada ingat kepada Allah. Percuma saja kita meneriakkan nama Allah namun hati kita berpaling dari-Nya. Inilah makna dzikir, menyebut dengan lisan dan mengingat dengan hati.

Pengertian dzikir di atas barangkali sudah sering kita dengar. Saya akan coba menambahkan makna dzikir dalam dimensi lain, yakni dari sudut pandang para ahli tasawuf.

Pertama, dzikir sebagai bentuk ingat kepada Tuhan, yakni ingat setiap saat, tidak terbatasi tempat dan waktu, dan lepas dari segala bentuk ritual peribadatan. Dzikir dapat dilakukan kapan saja, seiring dangan tarikan dan hembusan nafas. Maka dzikir menempati peringkat paling vital dalam mengembangkan kualitas ruhani.

Dalam konteks ini, dzikir bukan hanya ucapan lisan yang biasanya mengikuti aturan-aturan tertentu, seperti berwudhu terlebih dahulu, dilakukan pada waktu-waktu tertentu, dan dilakukan pada tempat-tempat tertentu pula. Ingat Tuhan yang dimaksud adalah ingat sebanyak-banyaknya, sebagaimana firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah, dzikir sebanyak-banyaknya." (QS. al-Ahzab [33]: 41-42)

Kedua, dzikir sebagai bentuk penyebutan, yakni menyebut 'yang memiliki nama'. Segala sesuatu pasti memiliki nama, bahkan Tuhan pun memiliki nama. Ketika menyebut nama sesuatu misalnya, tentu kita membayangkan atau melihat bentuk, perbuatan, dan sifat sesuatu itu. Lalu apa hubungannya antara suatu benda dengan menyebut nama Allah? Hubungannya jelas sekali. Menyebut nama suatu benda sama saja kita menyebut nama Allah Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya:

"Ke mana saja kau hadapkan wajahmu di situ ada Wajah Allah." (QS. al-Baqarah [2]: 115)

Semua nama benda atau nama apa saja, bersumber dari satu Nama, Allah. Ini berlaku dengan satu syarat, saat menyebut nama benda itu kita mengi'tiqadkan sedang menyebut nama-Nya. Demikian salah satu paham tauhid para sufi.

Mungkin dua makna terakhir ini cukup sulit dicerna. Namun itulah inti dzikir, dan ini hanya bisa dihayati dengan perenungan, dengan tafakkur

Wallahu a'lam
Share:

Waktu Saat Ini


Syubbanul Wathon

Tahlilan

Tamu Online